{"id":3163,"date":"2026-03-08T12:00:43","date_gmt":"2026-03-08T12:00:43","guid":{"rendered":"https:\/\/bidikekspres.id\/?p=3163"},"modified":"2026-03-08T12:00:43","modified_gmt":"2026-03-08T12:00:43","slug":"ternak-yayasan-di-program-mbg-wakil-kepala-bgn-bongkar-praktik-bisnis-berkedok-sosial-di-balik-dapur-makan-bergizi-gratis-mbg","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bidikekspres.id\/?p=3163","title":{"rendered":"Ternak Yayasan di Program MBG: Wakil Kepala BGN Bongkar Praktik \u2018Bisnis Berkedok Sosial\u2019 di Balik Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG)"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><span style=\"color: #3366ff\"><b>Ternak Yayasan di Program MBG: Wakil Kepala BGN Bongkar Praktik \u2018Bisnis Berkedok Sosial\u2019 di Balik Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG)\u00a0<\/b><\/span><\/p>\n<p dir=\"ltr\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-3164 aligncenter\" src=\"https:\/\/bidikekspres.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Screenshot_20260308-164424-300x196.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"196\" srcset=\"https:\/\/bidikekspres.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Screenshot_20260308-164424-300x196.jpg 300w, https:\/\/bidikekspres.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Screenshot_20260308-164424-768x502.jpg 768w, https:\/\/bidikekspres.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Screenshot_20260308-164424.jpg 798w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p dir=\"ltr\"><span style=\"color: #3366ff\"><b>Bidik Ekspres.id | Jakarta<\/b><\/span><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, kini menghadapi tantangan serius di lapangan. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, mengungkap adanya praktik penyalahgunaan program oleh sejumlah pihak yang memanfaatkan yayasan sebagai kedok untuk menjalankan bisnis dapur MBG.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dalam sebuah workshop bertajuk \u201cPenguatan Strategi Komunikasi dan Implementasi Kehumasan\u201d yang digelar Sabtu (7\/3\/2026), Nanik secara terbuka menyampaikan kekhawatirannya terkait fenomena yang ia sebut sebagai \u201cternak yayasan\u201d dalam pengelolaan dapur MBG.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: center\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-3164 aligncenter\" src=\"https:\/\/bidikekspres.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Screenshot_20260308-164424-300x196.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"196\" srcset=\"https:\/\/bidikekspres.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Screenshot_20260308-164424-300x196.jpg 300w, https:\/\/bidikekspres.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Screenshot_20260308-164424-768x502.jpg 768w, https:\/\/bidikekspres.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Screenshot_20260308-164424.jpg 798w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><em><span style=\"color: #3366ff\">Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang,<\/span><\/em><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Menurutnya, tingginya target pelaksanaan program makan bergizi gratis telah memicu munculnya berbagai yayasan yang didirikan bukan semata untuk tujuan sosial, melainkan untuk mengambil keuntungan dari program tersebut.<br \/>\n\u201cTarget makan bergizi gratis (MBG) sangat tinggi sekali, muncul lah ternak-ternak yayasan. Banyak orang memiliki lebih dari satu dapur,\u201d ungkap Nanik.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Fenomena ini, kata dia, membuat sejumlah pihak berlomba-lomba mendirikan yayasan dan mengelola beberapa dapur MBG sekaligus. Namun dalam praktiknya, orientasi keuntungan kerap mengalahkan komitmen terhadap kualitas pelayanan dan standar operasional yang seharusnya diterapkan dalam program sosial tersebut.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Nanik mencontohkan beberapa kasus di mana pengelola dapur tidak memperhatikan fasilitas yang layak bagi operasional program. Bahkan, hal-hal mendasar seperti perbaikan peralatan atau penyediaan fasilitas pendukung sering diabaikan karena dianggap mengurangi margin keuntungan.<br \/>\n\u201cYang muncul adalah pengusaha pengusaha berkedok yayasan, karena orientasinya bisnis tadi. Makanya kamar pun tidak dipikirkan, diminta AC susah, kalau peralatan rusak tidak mau ganti karena hitung-hitungannya bisnis,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Padahal, program MBG dirancang untuk memastikan makanan yang disajikan kepada masyarakat\u2014khususnya anak-anak dan kelompok rentan\u2014diproduksi dalam lingkungan yang higienis, aman, dan memenuhi standar gizi yang ketat.<br \/>\nPraktik pengelolaan yang hanya berorientasi keuntungan dinilai berpotensi merusak tujuan utama program, sekaligus mengancam kualitas layanan gizi yang seharusnya menjadi prioritas.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Menanggapi situasi tersebut, Badan Gizi Nasional memastikan tidak akan tinggal diam. Nanik menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh mitra penyelenggara dapur MBG, termasuk menindak pihak yang terbukti melanggar prinsip dan standar program.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">BGN juga membuka kemungkinan pengetatan mekanisme seleksi dan pengawasan terhadap yayasan atau lembaga yang terlibat dalam program ini, guna memastikan bahwa pengelola dapur benar-benar memiliki komitmen sosial, bukan sekadar mengejar keuntungan.<br \/>\nLangkah ini dinilai penting agar program MBG tetap berjalan sesuai tujuan awalnya: meningkatkan kualitas gizi masyarakat secara merata dan berkelanjutan, bukan menjadi ladang bisnis berkedok kegiatan sosial.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Di tengah besarnya harapan publik terhadap program makan bergizi gratis, pengawasan ketat dan transparansi pengelolaan dinilai menjadi kunci agar program strategis ini tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.***<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><i>Editor: Redaksi<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ternak Yayasan di Program MBG: Wakil Kepala BGN Bongkar Praktik \u2018Bisnis Berkedok Sosial\u2019 di Balik Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG)\u00a0 Bidik Ekspres.id | Jakarta Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, kini menghadapi tantangan serius di lapangan. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, mengungkap adanya praktik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3164,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[42,43,32],"class_list":["post-3163","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-jakarta","tag-ragam","tag-redaksi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3163","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3163"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3163\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3165,"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3163\/revisions\/3165"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3164"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3163"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3163"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bidikekspres.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3163"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}