Sebanyak 70 Persen Wilayah Sukoharjo Rawan Longsor! TNI Turun Tangan Perkuat Kesiapsiagaan Relawan Hadapi Musim Hujan

Bidik Ekspres.id l Wonosobo
Ancaman tanah longsor membayangi Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, seiring mulai meningkatnya intensitas hujan. Fakta bahwa sekitar 70 persen wilayah kecamatan tersebut masuk kategori rawan longsor menjadi peringatan serius bagi seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Mengantisipasi risiko tersebut, personel Koramil 14/Sukoharjo Kodim 0707/Wonosobo, Peltu Nur Anshori, bersama instansi terkait tampil sebagai narasumber dalam kegiatan Pembinaan Relawan Penanggulangan Bencana Kecamatan Sukoharjo, Rabu (4/11/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar agenda pembinaan rutin. Lebih dari itu, menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemampuan relawan, membangun koordinasi lintas sektor, serta memastikan masyarakat tidak gagap ketika bencana datang sewaktu-waktu.
Dalam sambutan pembukaan, Camat Sukoharjo Setiawan Nugroho mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen wilayah Kecamatan Sukoharjo merupakan kawasan yang memiliki kerawanan terhadap bencana tanah longsor.
Menurutnya, kesiapan menghadapi musim penghujan harus dilakukan sejak dini, bukan menunggu bencana terjadi.
“Persiapan menuju musim penghujan harus dilakukan secara serius. Koordinasi lintas sektor sangat diperlukan agar penanganan di lapangan dapat berjalan lebih cepat, tepat, dan efektif ketika bencana terjadi,” tegas Setiawan Nugroho.

Kerawanan tersebut menjadi perhatian khusus mengingat sejumlah wilayah Kecamatan Sukoharjo secara historis kerap menghadapi bencana longsor maupun tanah bergerak saat musim hujan.
Dalam pembinaan tersebut, para relawan juga diingatkan bahwa tugas kemanusiaan bukan sekadar keberanian turun ke lokasi bencana. Dibutuhkan keikhlasan, kedisiplinan, kemampuan teknis, serta pemahaman terhadap prosedur keselamatan.
Sementara itu, Peltu Nur Anshori menegaskan bahwa keselamatan relawan harus menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan penanganan bencana.
Ia mengingatkan agar para relawan tidak gegabah ketika melakukan evakuasi maupun tindakan pertolongan di lokasi kejadian.
“Sebagai relawan harus mampu membagi waktu antara kepentingan keluarga dan kepentingan menolong sesama. Sebelum melaksanakan kegiatan apa pun dalam tahapan penanganan bencana, periksa terlebih dahulu kelengkapan alat dan perlengkapan yang diperlukan. Setiap langkah tindakan harus mengutamakan keselamatan pribadi, jangan sampai kita yang menolong justru ikut menjadi korban,” tegas Peltu Nur Anshori.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa semangat kemanusiaan harus berjalan beriringan dengan kesiapan peralatan, keterampilan, dan perhitungan risiko di lapangan.
Melalui pembinaan ini, diharapkan para relawan semakin siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana, mulai dari tanah longsor hingga tanah bergerak. Sinergi TNI, pemerintah kecamatan, instansi terkait, dan masyarakat juga diharapkan semakin solid dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang responsif.
Dengan 70 persen wilayah masuk kategori rawan longsor, kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Jangan menunggu longsor terjadi baru bergerak. Deteksi dini, koordinasi cepat, dan keselamatan relawan harus menjadi garda terdepan perlindungan masyarakat.***
