Momentum HSN, Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung Dr KH Yusuf Ali Tantowi Dorong Santri Menjadi Penggerak Kemandirian Ekonomi Umat

BIDIK EKSPRES.ID | KAB BANDUNG

Santri tidak hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan dan nilai-nilai keislaman, tetapi juga memiliki potensi besar untuk tampil sebagai penggerak perubahan sosial dan ekonomi umat. Dengan bekal ilmu agama, karakter yang kuat, serta semangat kemandirian, santri diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan ekonomi masyarakat.

Semangat itulah yang didorong Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bandung melalui program Santri Berzakat, sebuah ikhtiar untuk menumbuhkan kesadaran santri tentang pentingnya zakat, infak, dan sedekah sekaligus membangun orientasi kemandirian ekonomi sejak dini.

Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung Dr KH Yusuf Ali Tantowi L.c.,M.A menegaskan bahwa santri harus dipersiapkan bukan hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, melainkan juga menjadi pelaku yang menciptakan manfaat bagi masyarakat. Santri perlu memiliki keberanian untuk berinovasi, mengembangkan keterampilan, membangun usaha, dan mengambil peran dalam meningkatkan kesejahteraan umat.

“Santri harus berdaya, berdampak, dan mampu memberikan solusi. Kita ingin santri tumbuh menjadi generasi yang kuat secara keilmuan, kokoh akhlaknya, mandiri secara ekonomi, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Inilah semangat yang harus terus diusung dan ditumbuhkan dalam gerakan pemberdayaan santri,” kata Dr KH Yusuf Ali Tantowi L.c.,M.A usai mengikuti upacara peringatan HSN di Lapangan Upakarti, Soreang, Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, persoalan ekonomi umat membutuhkan keterlibatan berbagai elemen, termasuk pesantren dan kalangan santri. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pembentukan karakter, tetapi juga berpotensi berkembang sebagai pusat pemberdayaan ekonomi yang melahirkan wirausahawan muda, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Melalui program Santri Berzakat, BAZNAS Kabupaten Bandung ingin menanamkan pemahaman bahwa zakat bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan ketika seseorang telah memiliki harta dalam jumlah tertentu. Lebih dari itu, zakat merupakan bagian dari sistem kepedulian sosial Islam yang mendorong pemerataan kesejahteraan, memperkuat solidaritas, dan membangun hubungan produktif antara orang yang memberi dan menerima.

Santri juga didorong memahami perjalanan menuju kemandirian tersebut: belajar dengan sungguh-sungguh, mengembangkan kompetensi, merintis usaha sesuai potensi, memperoleh penghasilan yang halal, kemudian meningkatkan kepedulian melalui infak, sedekah, dan zakat ketika telah memenuhi ketentuan syariat.

Dengan cara pandang ini, santri diharapkan tidak berhenti pada semangat berbagi, tetapi turut membangun kemampuan agar kelak menjadi bagian dari masyarakat yang produktif dan mandiri.

BAZNAS Kabupaten Bandung memandang pemberdayaan santri sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan umat. Ketika santri memiliki kemampuan ekonomi yang baik dan kesadaran zakat yang kuat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga dapat meluas kepada keluarga, pesantren, lingkungan usaha, dan masyarakat.

Karena itu, sinergi antara BAZNAS, pesantren, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi penting untuk membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan potensi santri. Pendidikan kewirausahaan, pendampingan usaha, penguatan keterampilan, serta literasi zakat dapat menjadi bagian dari upaya melahirkan generasi santri yang mampu bersaing sekaligus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

Gerakan ini juga menegaskan bahwa masa depan santri tidak terbatas pada satu bidang pengabdian. Santri dapat menjadi ulama, pendidik, profesional, inovator, pelaku usaha, hingga pemimpin masyarakat yang menghadirkan kemaslahatan.

Santri berdaya adalah santri yang mampu mengubah ilmu menjadi karya, keterampilan menjadi usaha, dan keberhasilan menjadi kebermanfaatan. Sementara itu, santri yang berdampak adalah mereka yang tidak hanya berjuang untuk kemajuan dirinya sendiri, tetapi juga ikut mengangkat kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Melalui Santri Berzakat, BAZNAS Kabupaten Bandung berharap tumbuh generasi santri yang tidak hanya memahami pentingnya zakat, tetapi juga memiliki cita-cita untuk membangun kemandirian, memperluas manfaat, dan berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan.

Sebab, kebangkitan ekonomi umat membutuhkan generasi yang berilmu, berakhlak, terampil, dan berdaya. Dari pesantren, santri diharapkan tumbuh menjadi kekuatan baru yang menggerakkan perubahan, memperluas kesejahteraan, serta membawa keberkahan bagi Kabupaten Bandung dan Indonesia.***

Editor: Aripudin