Dakwah Boneka Jadi Cara Edukasi Anak di SDN Sukaraya 02 Bekasi Dalam Peringatan Maulid, Pesan Pengawasan Gadget Menguat di Tengah Rencana Pembangunan Sekolah

Bidik Ekspres.id | Kab Bekasi

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, pendidikan karakter membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mendidik, tetapi juga mampu menarik perhatian peserta didik. SD Negeri (SDN) Sukaraya 02, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi, menghadirkan pendekatan tersebut melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (10/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah, Kampung Kandang RT 02 RW 06, Desa Sukaraya, itu tidak sekadar menjadi agenda keagamaan tahunan. Peringatan tersebut juga menjadi ruang edukasi untuk menanamkan nilai-nilai akhlak mulia, memperkuat keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, sekaligus menyampaikan rencana pengembangan sarana sekolah.

Salah satu perhatian utama dalam kegiatan tersebut adalah pendekatan dakwah yang dikemas melalui cerita dan boneka. Metode ini menjadi alternatif penyampaian pesan moral yang lebih komunikatif bagi anak-anak, terutama ketika mereka hidup di tengah lingkungan yang semakin akrab dengan layar ponsel dan beragam konten digital.

Penceramah asal Karangbahagia Kak TopikBom atau yang akrab disapa Opik, hadir menyampaikan tausiyah dengan ditemani boneka andalannya, Odik.

Melalui perpaduan cerita edukatif, humor, dan pesan keagamaan, Kak TopikBom berusaha membangun kedekatan dengan para siswa. Suasana yang semula formal berubah lebih cair, sementara perhatian peserta didik terarah pada cerita yang disampaikan.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan agama bagi anak usia sekolah dasar dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan substansi pesan yang ingin ditanamkan.

Di tengah tantangan pendidikan pada era digital, kreativitas dalam menyampaikan materi menjadi salah satu cara untuk membantu anak memahami nilai kejujuran, kedisiplinan, rasa hormat kepada orang tua dan guru, serta kepedulian terhadap sesama.

Meski demikian, keberhasilan pendidikan karakter tidak cukup diukur dari meriahnya acara atau tingginya antusiasme peserta. Nilai-nilai yang disampaikan perlu diperkuat melalui pembiasaan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.

Di balik pendekatan dakwah yang menghibur, Kak TopikBom menyampaikan pesan serius mengenai pentingnya peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak, termasuk dalam penggunaan telepon genggam atau gadget.

Dalam tausiyahnya, ia mengajak para orang tua untuk membatasi penggunaan ponsel yang tidak terkontrol agar anak memiliki waktu lebih banyak untuk belajar dan menjalankan aktivitas positif.

“Jaga dan awasi anak-anak, kurangi bermain handphone agar mereka lebih fokus belajar. Kita harus bersama-sama meneladani akhlak mulia Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari,” demikian pesan Kak TopikBom dalam tausiyahnya.

Pesan tersebut relevan dengan tantangan pengasuhan anak pada era digital. Ponsel memang dapat menjadi sarana pembelajaran dan akses informasi, tetapi penggunaannya tanpa pendampingan berpotensi mengganggu waktu belajar, pola istirahat, serta keseimbangan aktivitas anak.

Karena itu, langkah yang dibutuhkan bukan semata-mata melarang anak menggunakan teknologi, melainkan membangun aturan yang jelas, pendampingan yang konsisten, dan kebiasaan digital yang sehat sesuai usia.

Orang tua memiliki peran penting dalam memastikan penggunaan perangkat digital tidak mengambil alih waktu belajar, interaksi keluarga, aktivitas fisik, dan pembentukan perilaku sosial anak.

Di sisi lain, sekolah juga perlu memperkuat pendidikan karakter melalui pembelajaran yang menarik, keteladanan guru, serta komunikasi berkelanjutan dengan keluarga. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi agar pesan moral yang disampaikan dalam kegiatan keagamaan tidak berhenti sebagai nasihat sesaat.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SDN Sukaraya 02 turut dimeriahkan penampilan bernuansa Islami dari para siswa dan siswi. Kegiatan tersebut dihadiri dewan guru, orang tua atau wali murid, serta warga sekitar yang mengikuti rangkaian acara hingga selesai.

Sementara itu, Plt Kepala SDN Sukaraya 02, Fitria Rami, S.Pd., dalam sambutannya mengapresiasi kerja panitia dan seluruh guru yang terlibat. Ia juga mengingatkan para siswa agar menjaga kebersihan lingkungan sekolah maupun rumah.

Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan karakter mencakup banyak aspek, mulai dari akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, hingga kepedulian terhadap lingkungan.

Selain mengangkat pendidikan karakter, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi Plt Kepala SDN Sukaraya 02 untuk menyampaikan informasi mengenai rencana pembangunan gedung sekolah.

Dalam sambutannya, Fitria Rami menyebut pengajuan pembangunan gedung sekolah diharapkan dapat terealisasi pada 2027. Ia menyampaikan gambaran rencana pembangunan sekitar 14 ruang kelas dengan sejumlah bangunan bertingkat.

Informasi tersebut menjadi perhatian karena ketersediaan sarana pendidikan merupakan salah satu faktor yang mendukung kenyamanan dan kelancaran proses belajar-mengajar.

Namun, rencana itu masih memerlukan kejelasan mengenai rincian jumlah ruang kelas, pembagian bangunan, status persetujuan, sumber anggaran, serta jadwal pelaksanaan dari instansi berwenang. Kepastian tersebut penting agar informasi mengenai pembangunan tidak dipahami sebagai proyek yang telah resmi ditetapkan atau dipastikan mulai dikerjakan.

Masyarakat dan orang tua murid tentu berharap setiap rencana peningkatan sarana pendidikan dapat ditindaklanjuti melalui perencanaan yang matang, transparan, dan sesuai kebutuhan sekolah.

Jika terealisasi, pembangunan tersebut diharapkan dapat memberikan dukungan nyata terhadap kegiatan belajar-mengajar serta kebutuhan ruang belajar para siswa.

Peringatan Maulid Nabi di SDN Sukaraya 02 memperlihatkan dua hal yang saling berkaitan akan pentingnya pendekatan pendidikan yang kreatif dan perlunya dukungan lingkungan keluarga dalam membentuk karakter anak.

Dakwah melalui boneka Odik menjadi salah satu cara mendekatkan pesan keagamaan kepada peserta didik. Sementara itu, imbauan Kak TopikBom mengenai pengawasan penggunaan ponsel mengingatkan bahwa pendidikan tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah.

Di tengah perkembangan teknologi, anak-anak membutuhkan pendampingan untuk membedakan penggunaan perangkat yang bermanfaat dan aktivitas digital yang berlebihan. Mereka juga membutuhkan contoh nyata tentang bagaimana bersikap jujur, menghormati orang lain, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, tantangan pendidikan bukan sekadar bagaimana membuat anak tertarik mengikuti kegiatan keagamaan, melainkan bagaimana memastikan nilai yang dipelajari benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SDN Sukaraya 02 pun menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Harapannya, pembentukan generasi berakhlak mulia dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sarana pendidikan dan pendampingan anak dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.***

Editor: Hermansyah