Skaba Menyapa SMAN 1 Karangbahagia Bukan Sekadar Silaturahmi: Sekolah Buka Ruang, Orang Tua Diajak Kawal Karakter dan Prestasi Anak

Bidik Ekspres.id | Kab Bandung
Pendidikan tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Di balik prestasi seorang peserta didik, ada proses panjang yang melibatkan sekolah, guru, keluarga, hingga lingkungan tempat anak tumbuh.
Kesadaran itulah yang coba dibangun SMAN 1 Karangbahagia, Kabupaten Bekasi, melalui program “Skaba Menyapa”, Sabtu (3/10/2026).
Program tersebut mempertemukan jajaran sekolah dengan orang tua atau wali murid peserta didik kelas X, XI, dan XII. Pertemuan bukan sekadar agenda silaturahmi, tetapi menjadi ruang komunikasi untuk menyatukan perhatian sekolah dan keluarga terhadap perkembangan peserta didik.
Di hadapan para orang tua, pihak sekolah memperkenalkan jajaran dewan guru sekaligus menyampaikan berbagai capaian yang telah diraih peserta didik, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
Prestasi tersebut antara lain berasal dari kegiatan ekstrakurikuler serta berbagai kejuaraan akademik di tingkat Kabupaten hingga Provinsi.
Ketika Pendidikan Tak Bisa Dibebankan Hanya kepada Sekolah
Pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut cukup jelas: pembentukan karakter anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah.
Apa yang dibangun guru di lingkungan pendidikan membutuhkan kesinambungan ketika peserta didik kembali ke rumah.
Kepala SMAN 1 Karangbahagia, Munabbi Riasah, S.Pd., M.Si., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para orang tua dan wali murid kelas X, XI, dan XII yang telah hadir dalam kegiatan tersebut.
Munabbi juga mengajak para orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih intensif dengan anak-anak mereka.
Menurutnya, karakter baik yang dibentuk di lingkungan sekolah diharapkan dapat diterapkan pula dalam kehidupan sehari-hari di rumah maupun lingkungan sosial.
Karena itu, orang tua juga didorong untuk mengetahui aktivitas anak, melakukan pengawasan, serta membangun komunikasi secara langsung dengan peserta didik.
Selain membahas hubungan sekolah dan keluarga, suasana lingkungan SMAN 1 Karangbahagia turut mendapat perhatian dalam sesi ramah tamah.
Salah seorang orang tua peserta didik memberikan apresiasi terhadap kondisi lingkungan sekolah yang dinilai hijau dan tertata.
Pepohonan yang berada di lingkungan sekolah menciptakan suasana yang dinilai nyaman dan asri. Penataan lingkungan tersebut menjadi salah satu hal yang memberikan kesan positif bagi orang tua ketika berada di lingkungan sekolah.
Lingkungan pendidikan yang nyaman menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. Bukan hanya soal ruang kelas, tetapi juga bagaimana peserta didik berinteraksi dan menjalani aktivitasnya dalam lingkungan yang tertata.
Di sisi lain, pertemuan antara sekolah dan orang tua tersebut membuka ruang yang lebih luas mengenai pentingnya pengawasan peserta didik di luar lingkungan sekolah.
Sekolah memiliki ruang untuk mendidik, membimbing, dan mengembangkan potensi anak. Namun ketika peserta didik berada di rumah dan lingkungan masyarakat, keluarga menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan aktivitas keseharian mereka.
Orang tua tidak hanya menerima informasi dari sekolah, tetapi juga diharapkan aktif mengetahui perkembangan anak. Sebaliknya, sekolah membutuhkan dukungan keluarga agar pembinaan yang dilakukan di lingkungan pendidikan dapat berjalan berkesinambungan.
Di titik inilah Skaba Menyapa memiliki makna lebih luas dari sekadar agenda tahunan.
Program tersebut menjadi upaya mempertemukan dua lingkungan utama dalam kehidupan peserta didik: sekolah dan keluarga.
Keduanya memiliki ruang dan tanggung jawab masing-masing, tetapi tujuan akhirnya sama, yakni memastikan peserta didik tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga tumbuh dengan karakter yang baik.
Dengan mempertemukan orang tua, guru, dan pihak sekolah, SMAN 1 Karangbahagia berupaya membangun pola komunikasi yang lebih terbuka.
Prestasi yang telah diraih peserta didik menjadi capaian yang patut diapresiasi. Namun di balik setiap prestasi, terdapat proses pembinaan yang membutuhkan konsistensi.
Karena itu, Skaba Menyapa menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa pendidikan adalah perjalanan bersama.
Sekolah memberikan pengetahuan dan pembinaan. Guru memberikan keteladanan dan pendampingan. Sementara keluarga menjadi lingkungan pertama yang turut menentukan bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika ketiganya berjalan searah, pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang berprestasi, tetapi juga generasi yang memiliki karakter dan tanggung jawab.
Skaba Menyapa pun menjadi ruang untuk menyatukan hati sekolah dan keluarga: mengawal anak, menjaga karakter, sekaligus mendorong lahirnya prestasi yang membanggakan SMAN 1 Karangbahagia.***
Editor: Hermansyah
