Fenomena Nazar Politik di Sukaraya Karangbahagia Kabupaten Bekasi: Relawan Pilkades Jalan Mundur Penuhi Janji, Potret Emosi Demokrasi Akar Rumput

Bidik Ekspres.id | Jakarta

Demokrasi di tingkat akar rumput Indonesia selalu menyimpan cerita di luar nalar politik konvensional. Di tengah hiruk-pikuk rekapitulasi suara, sebuah tradisi unik bernama “Nazar” kembali mencuat ke permukaan, menjadi cerminan bagaimana emosi dan loyalitas personal bekerja dalam kompetisi politik desa.

Hal ini terekam jelas di Desa Sukaraya Kecamatan Karangbahagia Kabupaten Bekasi, seorang warga bernama Eri Dodo atau yang akrab disapa Sindu, seorang relawan garis depan dari tingkat Rukun Tetangga (RT) di Desa Sukaraya, memilih cara yang tidak lazim untuk merayakan kemenangan. Ia memenuhi nazarnya dengan berjalan mundur sejauh beberapa kilometer, menyusuri Jalan Cagak hingga tiba di posko pemenangan.

Aksi yang berlangsung pada Sabtu, 26/9 ini bukan sekadar atraksi jalanan. Sindu menjalankan janji yang telah ia ikrarkan menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) pada 20 September lalu, usai sosok yang didukungnya, Dano Sumarno sang Incumbent sukses meraih kepercayaan masyarakat untuk kembali memimpin desa.

Meski terdengar seperti sebuah hiburan, aksi jalan mundur ini berlangsung dengan khidmat dan tertib. Sindu tidak berjalan sendirian. Ia mendapat pengawalan ketat dari Babinsa Sukaraya Sertu Budi Nugraha, yang memastikan keselamatan relawan di tengah jalan raya.

Pasangan mata warga sekitar yang melewati jalanan turut menjadi saksi hidup. Tidak ada ejekan, melainkan sorak sorai dan tawa lepas yang mengiringi setiap langkah mundur Sang Relawan.

Puncak dari aksi ini terjadi sesampainya Sindu di posko pemenangan. Tanpa banyak bicara, ia langsung menjatuhkan tubuhnya, melakukan sujud syukur di atas aspal. Momen haru ini disambut langsung oleh Ketua Tim Relawan, Salamet, beserta puluhan anggota relawan lainnya. Pelukan dan tepuk tangan menjadi penutup dari sebuah janji yang ditepati dengan keringat.

Dalam kacamata sosiologi politik, fenomena nazar baik berupa jalan mundur, mencukur gundul, hingga mandi lumpur sering kali muncul dalam setiap momentum elektoral di Indonesia, mulai dari Pilkades, Pilbup, hingga Pilpres.

Namun, apa yang dilakukan Sindu di Karangbahagia menyisakan catatan penting bagi kita semua. Aksi ini bukan sekadar pelampiasan euforia semata, melainkan manifestasi dari kuatnya ikatan emosional antara perangkat lingkungan terkecil (RT) dengan figur kepemimpinan di desa.

Di tingkat desa, politik tidak selalu berbicara tentang ideologi atau kebijakan makro. Politik adalah tentang kedekatan personal, gotong royong, dan pembuktian loyalitas. Dukungan masif dari relawan seperti Sindu sering kali dipicu oleh penilaian bahwa kepemimpinan incumbent Kepala Desa Dano Sumarno dianggap berhasil merangkul warganya secara personal. Nazar, dengan demikian, bertransformasi dari sekadar “janji kampanye” menjadi sebuah ritual penghormatan dan simbol rasa syukur kolektif.

Lebih jauh, atraksi jalan mundur di Desa Sukaraya ini juga mengirimkan pesan kuat tentang kesehatan demokrasi kita di level paling bawah. Alih-alih diwarnai gesekan horizontal atau polarisasi yang memecah belah, kompetisi Pilkades di Bekasi kali ini ditutup dengan sebuah “pesta rakyat” yang menghibur.

Aksi Sindu menjadi tontonan yang menyegarkan, sekaligus menjadi simbol penutup dari kompetisi politik desa yang telah selesai dengan damai, sportif, dan penuh kekeluargaan. Sebuah potret nyata bahwa di balik rigidity (kekakuan) aturan pemilu, denyut nadi demokrasi di akar rumput Indonesia tetap berdetak dengan warna dan caranya yang khas.***

Editor: Hermansyah