Gema Pramuka Sukasari Tutup Tirai: Bukan Sekadar Kompetisi, Ini Cara Pramuka Kawal Kearifan Lokal dan Sinergi Keamanan Subang

Bidik Ekspres.id | Kab Subang
Rangkaian acara Gema Pramuka Kwartir Ranting (Kwaran) Sukasari resmi ditutup di Lapangan Kecamatan Sukasari, Subang, hari ini. Namun, gema dari kegiatan yang berlangsung selama sebulan penuh (27 Agustus – 24 September 2026) ini meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam dari sekadar kompetisi kepanduan biasa.
Di Sukasari, Gerakan Pramuka tidak lagi terpaku pada tali-temali dan sandi morse semata. Lebih dari itu, Pramuka bertransformasi menjadi garda terdepan pelestarian kearifan lokal dan mitra strategis stabilitas keamanan wilayah.
Berbeda dengan seremonial pada umumnya, Gema Pramuka tahun ini dirancang dengan pendekatan akar rumput. Rangkaian acara diinisiasi dari masing-masing Gugus Depan, memastikan setiap anggota merasakan kepemilikan atas gerakan ini. Puncaknya, lapangan kecamatan disulap menjadi arena pembuktian ketangkasan, keterampilan, dan Panca Lomba yang menguji fisik serta mental para prajurit pandu.
Momentum penutupan Gema Pramuka kali ini memiliki nilai strategis tersendiri. Acara diawali dengan prosesi lepas sambut pimpinan keamanan wilayah, dari Kapolsek Pamanukan AKP Udin Awaludin, S.H., M.H., C.Phr. kepada Kompol Dr. R. Jusdijachlan, S.H., M.M., CHRA.
Kehadiran estafet kepemimpinan kepolisian di tengah arena Pramuka ini
bukanlah kebetulan atau sekadar formalitas. Ini adalah sinyal keras dan terukur bahwa stabilitas kamtibmas serta pembinaan karakter generasi muda di wilayah hukum Pamanukan dan Sukasari berjalan beriringan dalam satu frekuensi sinergi.
Di tengah ketatnya kompetisi Panca Lomba dan hiburan yang memukau dari Bintang Tamu Eko Soekarna, ada satu agenda yang mencuri perhatian dan sarat akan makna filosofis: Lomba Ngaliwet antar Pembina Gugus Depan.
Ini bukan sekadar adu rasa kuliner tradisional. Bagi Kwaran Sukasari, ini adalah strategi kultural untuk membendung lunturnya identitas lokal di tengah gempuran modernisasi.
Majelis Pembimbing Ranting (Mabiran) Sukasari, Eza Zaithon Thowi Anshari, menegaskan bahwa agenda ini dirancang untuk mengikat kembali kohesi sosial masyarakat.
“Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memperkuat silaturahmi, membangun sinergi, dan menjalin kolaborasi. Kita ingin menjaga persatuan untuk membangun Sukasari ke arah yang lebih baik lagi,” tegas Eza di sela-sela penutupan acara.
Lebih jauh, Eza membeberkan filosofi di balik keterlibatan para Pembina dalam tradisi ngaliwet. Menurutnya, Pramuka harus hadir sebagai motivator masyarakat yang tidak mencabut akar budayanya.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memotivasi warga masyarakat dan secara nyata melestarikan nilai-nilai kearifan lokal melalui makanan tradisional nasi liwet khas Sunda. Ini adalah cara kami mengajarkan bahwa kemajuan karakter tidak boleh menggerus identitas budaya,” tambahnya.
Penutupan Gema Pramuka Kwaran Sukasari hari ini membuktikan sebuah tesis: bahwa gerakan Pramuka yang dikolaborasikan dengan kearifan lokal dan dukungan penuh aparat keamanan, adalah resep cerdas untuk membangun daerah dari akar rumput.
Sukasari tidak hanya berhasil mencetak generasi yang tangkas dan terampil, tetapi juga generasi yang tahu diri, menghargai budaya leluhur, dan sadar akan pentingnya sinergi keamanan demi masa depan wilayah yang lebih gemilang.***
Editor: Eka Widaningsih
