Ratusan Santri Ponpes Mambaul Hikam Sidoarjo Jatim Alami Keracunan Usai Santap MBG, Korban Dirujuk Ke 8 Fasilitas Kesehatan


Bidik Ekspres.id | Sidoarjo

Lebih dari 400 santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (1/9/2026), mengalami keracunan makanan yang diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Puluhan santri harus dilarikan dan dirawat di delapan rumah sakit serta klinik di wilayah Sidoarjo. Hingga kini, tidak ada laporan jatuhnya korban jiwa.

Ratusan santri dan santriwati, sebagian besar pelajar Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, mulai menunjukkan gejala mual, muntah, pusing, lemas, hingga sakit perut usai menyantap makanan program MBG. Kondisi memburuk hingga sejumlah santri harus mendapatkan perawatan medis secara intensif.

Sedikitnya delapan fasilitas kesehatan menjadi rujukan perawatan, meliputi RSUD Notopuro, RS Delta Surya, RSU Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan, RS Siti Hajar, RS Pusura, RS Bhayangkara Pusdik Porong, Klinik Azka, dan RS Anwar Medika.

Paling banyak korban dirawat di RSUD Notopuro, mencapai 271 santri per Selasa pukul 22.00 WIB. Sementara itu, 58 santri dirawat di RS Siti Hajar dan 30 santri di RS Fatimah.

Bupati Sidoarjo Subandi memastikan seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis yang memadai, baik yang bergejala berat maupun ringan, guna mencegah hal terburuk serta mempercepat pemulihan mereka.

“Saya pastikan tidak ada korban meninggal dalam kejadian ini. Semua pasien sudah tertangani dengan baik, bahkan sudah ada yang diperbolehkan pulang. Saya mengimbau kepada wali santri jangan ada kekhawatiran,” tegas Subandi.

Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam, KH Abdul Wahid Harun, menjelaskan para santri menyantap makanan dari program MBG setelah shalat Zuhur. Menu yang disajikan berupa nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel.

Serka Andik, pendamping SPPG, menjelaskan makanan dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan biasanya dibagikan pukul 12.00 WIB. Total makanan yang dikirim diperkirakan mencapai 440 ompreng. Sebagian dikonsumsi siang hari, sisanya dimakan sore hari karena santri masih mengikuti kegiatan pembelajaran.

“Biasanya selesai salat magrib ada kegiatan. Sebelum magrib sudah mulai ada yang muntah-muntah, kemudian setelah magrib ambulans berdatangan,” ungkapnya.

Kejadian ini menjadi sorotan terkait keamanan dan ketepatan penyajian makanan dalam pelaksanaan program MBG. Pihak berwenang diharapkan segera melakukan penyelidikan mendalam untuk menemukan penyebab pasti keracunan guna mencegah kejadian serupa terulang.***

Editor: Redaksi