Sejarah Baru Tercatat untuk Pertama Kalinya Upacara HUT ke-81 RI Tingkat Jabar Pindah ke Halaman Gedung Sate

Bidik Ekspres.id | Bandung
Sejarah baru tercatat dalam peringatan kemerdekaan di Jawa Barat. Upacara Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Provinsi Jawa Barat, Senin (17/8/2026), untuk pertama kalinya tidak lagi digelar di Lapangan Gasibu, melainkan berpindah ke Halaman Gedung Sate, Kota Bandung.
Kepastian ini ditegaskan langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi usai mengikuti Rapat Paripurna Mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI di Gedung DPRD Jawa Barat, Jumat 14/8.
Selama bertahun-tahun, Lapangan Gasibu menjadi lokasi baku upacara peringatan kemerdekaan tingkat provinsi. Namun tampilan latar belakang yang terekam saat bendera dikibarkan dinilai tidak menampilkan ikon kebanggaan masyarakat Jawa Barat, Gedung Sate, melainkan bangunan lain.
“Selama ini tempat upacara di Lapangan Gasibu. Saat bendera berkibar yang terekam di kamera muncul bangunan hotel, bukan Gedung Sate. Nah, nanti itu tidak akan terjadi lagi,” tegas Gubernur Dedi Mulyadi.
Langkah pemindahan lokasi ini sekaligus menjadi momen pembuka bagi masyarakat untuk melihat langsung hasil revitalisasi dan renovasi Gedung Sate yang telah rampung dikerjakan. Bangunan bersejarah ini kini kembali terbuka bagi publik, dan upacara kemerdekaan menjadi perhelatan perdana yang memanfaatkan wajah baru ikon Kota Bandung tersebut.
“Kita melaksanakan upacara secara terbuka di halaman Gedung Sate. Masyarakat silakan datang untuk menghadiri dan melihat upacaranya,” ujar Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM mengundang warga menyaksikan langsung perhelatan bersejarah itu.

Perubahan mendasar juga berlaku pada komposisi peserta barisan. Ke depannya, barisan inti upacara hanya akan diisi personel TNI dan Polri. Pegawai negeri serta pelajar tidak lagi diminta berdiri dalam barisan, sementara Satpol PP akan tampil dalam barisan pengiring atau defile pasukan.
KDM menjelaskan, penataan ini bukan tanpa alasan. Tujuannya agar jalannya upacara berjalan tertib, khidmat, dan tidak terganggu.
“Upacara diikuti oleh orang yang biasa upacara. Memiliki ketahanan fisik yang kuat. Kemudian memiliki kemampuan untuk tidak berbicara selama upacara, sehingga upacaranya bisa berjalan dengan tertib. Sementara masyarakat bisa duduk-duduk dengan santai untuk menikmati jalannya upacara bendera,” jelasnya.
Gubernur memastikan penataan Gedung Sate telah rampung dan siap digunakan. Pembuatan gerbang serta gapura penanda kawasan diperkirakan tuntas sepenuhnya pada Minggu (16/8/2026), sehari sebelum peringatan kemerdekaan.
Perhatian pemerintah provinsi tak hanya tertuju pada struktur bangunan, melainkan juga pada aspek pelestarian nilai sejarahnya. Pemilihan bahan cat pun dilakukan secara ketat, mengacu standar resmi Balai Pelestarian Cagar Budaya.
Hasilnya kini tampak nyata: Gedung Sate berdiri dengan warna putih bersih dan cerah, jauh lebih segar dibandingkan tampilan sebelumnya — bukti bahwa pembaruan dilakukan tanpa melupakan jati diri warisan leluhur.
Pemindahan lokasi dan penataan ulang susunan upacara ini tampaknya bukan sekadar perubahan tempat. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan sikap: menghormati warisan sejarah, menata perhelatan dengan tertib, sekaligus membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ikut merayakan kemerdekaan dengan bermartabat.***
Editor: Redaksi BE
