Swadaya Warga Kedungjarian Lakbok Kabupaten Ciamis: Gapura 3.500 Dari Galon Bekas, Buka Wisata Kuliner Hingga Malam  Dan Tingkatkan Ekonomi Lokal

Bidik Ekspres.id | Kab Ciamis

Semangat memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, bukan sekadar seremonial. Masyarakat dua desa berbatasan bersatu mengubah limbah menjadi karya seni yang memukau, sekaligus melahirkan ruang wisata baru yang mampu menggerakkan perekonomian warga setempat.

Inisiatif muncul dari warga RT 03 RW 01, Kedungjarian, Desa Sidaharja, bersama warga Kedungsari, Desa Baregbeg. Mereka bahu-membahu menghias sepanjang sekitar satu kilometer jalur perbatasan desa dengan nuansa kemerdekaan. Yang paling mencolok, ribuan bekas galon air mineral disusun rapi menjadi sebuah gapura megah berangka 3.500 unit — hasil karya sendiri yang kini menjadi daya tarik utama dan cukup viral di masyarakat.

Tokoh pemuda setempat sekaligus pemandu lokasi, Dedi, menjelaskan bahwa tempat wisata bertema kemerdekaan ini dibuka untuk umum setiap hari, pukul 18.00 hingga 22.00 WIB. Rata-rata jumlah pengunjung mencapai 1.200 orang setiap harinya, antusiasme warga luar daerah pun terus mengalir untuk menyaksikan langsung keindahan karya tersebut.

Ketua Panitia, Bambang, yang juga tokoh warga setempat, memaparkan seluruh proses berjalan atas kekuatan swadaya murni. Persiapan dimulai sejak 1 Juni 2026, dan secara resmi dibuka untuk umum pada 1 Agustus 2026. Seluruh biaya maupun tenaga kerja berasal dari gotong royong warga — tanpa bantuan anggaran dari pemerintah maupun pihak ketiga.

“Selain untuk memeriahkan HUT RI di lingkungan, tujuan utama kami adalah membangkitkan perekonomian warga. Kami siapkan area stan pedagang kaki lima di sepanjang lokasi, sehingga pengunjung yang menikmati keindahan karya kami juga bisa menikmati beragam kuliner khas warga setempat,” ujar Bambang.

Kini, kehadiran gapura galon beserta wisata kuliner pendampingnya bukan hanya menjadi kebanggaan warga Kedungjarian dan Kedungsari. Lebih dari itu, semangat gotong royong dan kreativitas yang mengubah limbah menjadi daya tarik wisata ini patut menjadi inspirasi bagi daerah lain: memperingati kemerdekaan tak melulu soal hiasan, namun bisa menjadi sarana menumbuhkan produktivitas dan perekonomian masyarakat secara nyata.***

Editor: Wawan Hermanto