Jalan Ambles Hampir 30 Cm, Truk Putus Per dan Sopir Terpaksa Memutar. Warga Bertanya: Pemerintah Menunggu Jalan Putus Total?

Bidik Ekspres.id l Kab Wonosobo

Hampir empat tahun warga menunggu perbaikan. Namun jalan alternatif Kaliwiro–Wadaslintang di wilayah Desa Medono, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, disebut tak kunjung mendapatkan penanganan permanen.

Kini warga memilih berhenti menunggu.

Dengan uang hasil patungan warga dan para sopir angkutan, masyarakat turun tangan sendiri melakukan pengecoran jalan yang mengalami ambles hampir 30 sentimeter sepanjang kurang lebih 100 meter.

Ironisnya, jalan yang menjadi akses masyarakat dan jalur pengangkutan hasil bumi itu justru diperbaiki dengan uang rakyat sendiri.

Lalu, pemerintah selama ini ke mana?

Menurut warga, kerusakan jalan tersebut sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Penanganan sebelumnya disebut hanya berupa tambalan, sementara kondisi jalan terus menjadi keluhan pengguna.

“Sudah beberapa tahun seperti ini. Belum ada perbaikan yang benar-benar serius dan permanen,” ujar salah seorang warga. Minggu 9/8/2026

Kerusakan jalan juga dirasakan para sopir angkutan. Kasno, sopir truk pengangkut kayu dan hasil pertanian, mengaku lebih memilih memutar lewat jalur Wadaslintang meski harus menambah perjalanan hampir 20 kilometer.

“Kalau bawa muatan kayu atau ketela ke Wonosobo, saya lebih baik memutar lewat Wadaslintang. Kalau lewat Medono sudah beberapa kali per mobil putus,” ungkapnya.

Akibat jalan rusak, sopir harus menambah jarak, biaya bahan bakar, waktu perjalanan, hingga risiko kerusakan kendaraan.

Sementara itu, warga Desa Medono akhirnya mengumpulkan uang secara swadaya bersama para sopir dan pengguna jalan untuk melakukan pengecoran.

Sukaryo, salah satu warga, mengatakan perbaikan tersebut murni berasal dari patungan masyarakat.

“Ini hasil sumbangan warga dan para sopir. Kami melakukan ini karena selama ini belum ada penanganan yang kami harapkan,” katanya.

Warga bergotong royong selama kurang lebih tiga hari untuk memperbaiki titik jalan yang ambles.

Namun, aksi swadaya ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai keberhasilan gotong royong.

Ada pertanyaan yang lebih penting: mengapa masyarakat harus patungan memperbaiki akses publik yang selama ini mereka anggap sebagai jalur penting?

Jika benar ruas jalan tersebut menjadi kewenangan pemerintah daerah, maka publik berhak mengetahui:

Apakah kerusakan itu sudah dilaporkan? Apakah sudah pernah disurvei? Apakah sudah dianggarkan? Dan jika sudah diketahui bertahun-tahun, mengapa perbaikan permanen belum juga dilakukan?

Warga tidak meminta pujian karena mampu bergotong royong.

Mereka meminta jalan yang layak.

Sebab gotong royong warga memang patut diapresiasi, tetapi jangan sampai gotong royong dijadikan alasan untuk menutupi minimnya kehadiran pemerintah dalam menangani fasilitas publik.

Kini warga sudah bergerak. Uang pribadi sudah dikeluarkan. Beton sudah dicor.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah pemerintah akan datang setelah jalan diperbaiki warga, atau menunggu sampai kerusakannya kembali parah?

Redaksi membuka ruang klarifikasi kepada Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan dinas teknis terkait mengenai status jalan, kewenangan, riwayat penanganan, serta rencana perbaikan permanen.***