Sampah Masih Ancam Sungai Serayu, Puluhan Relawan Turun Tangan Bersihkan Aliran Sungai: Kesadaran Masyarakat Jadi Kunci Selamatkan Lingkungan

Bidik Ekspres.id | Kab Wonosobo

Tumpukan sampah yang masih ditemukan di aliran Sungai Serayu menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan belum selesai. Di balik derasnya arus sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat, masih terselip limbah plastik, kain bekas, hingga sampah rumah tangga yang berpotensi mencemari ekosistem dan mengancam kualitas sumber daya air.

Kondisi tersebut mendorong puluhan relawan dari berbagai unsur masyarakat menggelar Clean Up Sungai Serayu di Dusun Krakal, Kelurahan Kejajar, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Minggu (2/8/2026). Aksi ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya melalui imbauan, tetapi harus diwujudkan dengan tindakan nyata.

Relawan yang terdiri atas PIK Remaja Kelurahan Kejajar, Komunitas Dieng Bersih, TNI, Polri, IPPNU/IPNU, IPM, mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta masyarakat setempat bahu-membahu menyusuri bantaran dan aliran Sungai Serayu. Dengan mengenakan sarung tangan serta membawa kantong sampah, mereka mengangkat berbagai jenis limbah yang selama ini mencemari sungai.

Aksi tersebut tidak hanya bertujuan membersihkan sungai, tetapi juga mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat bahwa sungai bukanlah tempat pembuangan sampah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat memicu pencemaran lingkungan, merusak habitat biota air, menyebabkan pendangkalan sungai, hingga meningkatkan risiko banjir akibat tersumbatnya aliran air.

Koordinator kegiatan menyampaikan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan yang harus dimulai dari kesadaran setiap individu.

“Sungai adalah sumber kehidupan masyarakat. Jika sungai dipenuhi sampah, maka dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri. Karena itu, menjaga kebersihan sungai harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau komunitas tertentu,” ujarnya.

Mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang turut terlibat menilai kegiatan tersebut menjadi pembelajaran nyata tentang pentingnya kolaborasi dalam menjaga lingkungan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya melalui pendidikan dan pemberdayaan, tetapi juga melalui aksi nyata menjaga kelestarian alam. Semoga kegiatan ini mampu menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” ungkap salah seorang peserta KKN.

Gerakan bersih Sungai Serayu juga menjadi media edukasi bahwa menjaga sungai berarti menjaga keberlangsungan kehidupan. Sungai yang bersih mampu menopang kebutuhan air masyarakat, menjaga keseimbangan ekosistem, mendukung sektor pertanian, hingga mengurangi potensi bencana lingkungan.

Warga berharap aksi serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, komunitas, pemerintah daerah, dan seluruh lapisan masyarakat. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula peluang membangun budaya cinta lingkungan yang berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya persoalan sampah di berbagai daerah, aksi gotong royong di Sungai Serayu menjadi contoh bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana. Tidak membuang sampah ke sungai, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengelola sampah dari rumah merupakan kontribusi nyata yang dapat dilakukan setiap orang.

Sungai yang bersih bukan hanya menghadirkan lingkungan yang sehat, tetapi juga menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. Karena itu, menjaga Sungai Serayu berarti menjaga masa depan bersama.***

Editor: Ndrikom