Jelang Festival Asia Afrika, Pemkot Bandung Benahi Simpang Lima dan Siapkan Penertiban Parkir Liar hingga Premanisme

Bidik Ekspres.id | Bandung

Pemerintah Kota Bandung mulai bergerak membenahi kawasan Simpang Lima sebagai langkah awal menyambut Festival Asia Afrika 2026. Penataan tersebut bukan sekadar mempercantik wajah kota, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan cagar budaya sekaligus menciptakan ruang publik yang lebih nyaman, aman, dan tertib bagi masyarakat maupun wisatawan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan penataan yang dilakukan saat ini masih bersifat sementara. Revitalisasi secara menyeluruh di koridor Jalan Ahmad Yani hingga Jalan Asia Afrika belum dapat dilaksanakan sepenuhnya karena harus diselaraskan dengan pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) yang diproyeksikan berlangsung hingga tahun 2027.

“Keinginan kami sebenarnya sejak tahun lalu kawasan ini dibereskan secara menyeluruh. Namun karena ruas Ahmad Yani sampai Asia Afrika merupakan koridor BRT maka penataannya harus berjalan bersamaan dengan proyek tersebut,” ujar Farhan saat meninjau penataan Simpang Lima, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, proyek BRT saat ini masih berada pada tahap pembangunan halte dan sosialisasi kepada masyarakat. Setelah tahapan tersebut selesai, pemerintah akan melanjutkan perbaikan jalan serta penataan kawasan secara komprehensif.

Farhan meminta masyarakat memahami bahwa revitalisasi koridor Jalan Ahmad Yani, Jalan Asia Afrika, Jalan Sudirman hingga Jalan Otto Iskandardinata (Otista) merupakan proyek terpadu yang membutuhkan waktu agar hasilnya lebih optimal.

Salah satu fokus utama penataan saat ini adalah kawasan cagar budaya di sekitar Simpang Lima. Pemerintah mulai merapikan bagian depan sejumlah bangunan bersejarah seperti Gedung Pensil dan Gedung Vigano agar kembali menampilkan karakter arsitektur yang menjadi identitas Kota Bandung.

Selain mempercantik kawasan, Pemkot juga melakukan pembersihan lingkungan dari tumpukan sampah serta menertibkan area yang selama ini digunakan sebagai tempat tinggal oleh gelandangan dan pengemis (gepeng) maupun tunawisma. Langkah tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi ruang publik sekaligus meningkatkan kenyamanan pengunjung.

“Bagian depannya kita rapikan terlebih dahulu. Simpang Lima ini dikelilingi banyak bangunan cagar budaya sehingga harus dijaga dan dipercantik,” kata Farhan.

Pemerintah juga akan melengkapi kawasan dengan berbagai fasilitas pendukung seperti bangku-bangku di sepanjang trotoar dan pemasangan lampu dekoratif guna menghadirkan suasana kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan wisatawan.

Di sisi lain, sebuah tiang reklame yang menempel pada bangunan cagar budaya akan dibongkar secara hati-hati agar tidak merusak struktur bangunan bersejarah tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian aset budaya yang menjadi identitas Kota Bandung.

Menjelang pelaksanaan Festival Asia Afrika, Pemkot Bandung juga telah menyiapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan strategis, meliputi Jalan Naripan, Jalan Sunda, Jalan Asia Afrika, Jalan Sukarno, hingga kawasan Braga. Area parkir kendaraan akan dipusatkan di sekitar kawasan Cikapundung dan Naripan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas.

Rangkaian kegiatan dijadwalkan dimulai pukul 08.00 WIB melalui pawai budaya hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah itu, kegiatan akan berlanjut dengan Festival Asia Afrika yang dipusatkan di kawasan Braga dan Jalan Sukarno.

Tak hanya fokus pada penataan fisik, Pemerintah Kota Bandung juga memastikan aspek keamanan menjadi prioritas. Wali Kota Muhammad Farhan menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap praktik parkir liar, pungutan liar (pungli), maupun aksi premanisme yang berpotensi mengganggu kenyamanan masyarakat selama festival berlangsung.

“Kalau ada parkir liar langsung kita tindak. Kalau ada yang melakukan pungutan liar atau mengetok parkir kendaraan juga langsung kita tindak,” tegasnya.

Langkah penataan yang dibarengi penegakan ketertiban ini diharapkan tidak hanya menyukseskan Festival Asia Afrika, tetapi juga menjadi momentum memperkuat citra Bandung sebagai kota wisata bersejarah yang bersih, tertib, aman, dan ramah bagi seluruh pengunjung. Selain menjadi agenda budaya berskala internasional, festival tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan, melestarikan bangunan cagar budaya, serta bersama-sama menciptakan ruang publik yang nyaman untuk semua.***

Editor: Redaksi