Dieng Membeku! Suhu Minus 6 Derajat Celsius Picu Fenomena Bun Upas, Wisatawan Berburu Keindahan, Petani Kentang Menanggung Ancaman Gagal Panen

Bidik Ekspres.id | Kab Wonosobo

Keindahan alam Dataran Tinggi Dieng kembali menghadirkan fenomena langka yang memukau sekaligus mengkhawatirkan. Dalam beberapa hari terakhir, kawasan Desa Dieng Wetan, Desa Sikunang, hingga wilayah sekitarnya diselimuti bun upas atau embun es yang membuat hamparan rumput, dedaunan, dan lahan pertanian berubah putih bak tertutup salju tipis.

Di balik panorama yang menjadi incaran wisatawan dan pemburu fotografi, tersimpan ancaman nyata bagi ribuan petani hortikultura. Suhu udara yang anjlok hingga minus 1 hingga minus 6 derajat Celsius bukan hanya menciptakan lanskap eksotis, tetapi juga berpotensi menghancurkan tanaman kentang dan sayuran yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Dieng.

Menurut warga setempat, Gianto, suhu udara mengalami penurunan sangat drastis. Jika beberapa hari sebelumnya masih berada di kisaran 2 derajat Celsius, kini pada dini hari suhu mencapai sekitar minus 5 derajat Celsius.

Sementara itu, suhu permukaan tanah dan rerumputan pada pukul 08.30 WIB tercatat sekitar 0,60 derajat Celsius, kondisi yang memungkinkan embun membeku menjadi lapisan es dengan ketebalan mencapai sekitar setengah sentimeter. Lapisan es tersebut bahkan dapat dikeruk menggunakan tangan.

Berdasarkan penjelasan BMKG, bun upas terjadi akibat kombinasi kondisi atmosfer yang sangat kering dan langit malam yang cerah tanpa tutupan awan.

Sepanjang Juli 2026, curah hujan di kawasan Dieng tercatat nol milimeter. Kondisi tersebut membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lepas secara maksimal ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu turun sangat cepat hingga berada di sekitar titik beku.

Fenomena embun es umumnya mulai terbentuk sekitar pukul 03.00 WIB dan bertahan hingga pukul 07.00 WIB, sebelum akhirnya mencair saat sinar matahari mulai menghangatkan permukaan tanah.

Indah Dipandang, Berat Dirasakan Petani

Fenomena bun upas selalu menghadirkan dua sisi yang sangat berbeda.

Bagi wisatawan, embun es merupakan atraksi alam langka yang hanya muncul pada musim kemarau. Banyak pengunjung rela berangkat sejak malam, bahkan mulai pukul 19.00 WIB, demi menyaksikan hamparan putih Dieng saat matahari belum terbit. Waktu terbaik menikmati fenomena tersebut berada pada rentang pukul 05.00 hingga 06.30 WIB.

Daun-daun tanaman kentang membeku menjadi lapisan es. Setelah terkena sinar matahari, sebagian daun berubah mengering seperti terbakar atau terkena semprotan herbisida. Kerusakan tersebut dapat mengganggu proses pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, bahkan memicu gagal panen apabila suhu ekstrem berlangsung selama beberapa hari berturut-turut.

Dampak itu mulai dirasakan para petani di Dieng. Salah satunya dialami Ahmad Mujiyanto, petani kentang asal Jojogan, yang lahannya terdampak langsung akibat kemunculan embun es.
Momentum Wisata Harus Diimbangi Perlindungan Petani.

Fenomena bun upas setiap tahun memang mampu meningkatkan kunjungan wisata ke Dieng dan memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi pariwisata. Namun perhatian terhadap petani tidak boleh terabaikan.

Perubahan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi menjadi pengingat pentingnya sistem informasi cuaca yang akurat, langkah mitigasi bagi sektor pertanian, serta pendampingan kepada petani agar kerugian akibat embun beku dapat ditekan.

Bun upas bukan sekadar fenomena alam yang indah untuk diabadikan melalui kamera. Di balik hamparan putih yang memikat mata, tersimpan perjuangan petani menjaga harapan di tengah ancaman cuaca ekstrem yang datang tanpa bisa ditolak.***

Editor: Ndrikom