Misteri Batu Semar di Lereng Dieng! Berdiri Puluhan Tahun di Pinggir Jalan Sikunang, Kisahnya Masih Menjadi Teka-Teki

Bidik Ekspres.id l Wonosobo
Di balik keindahan alam Desa Sikunang, Kecamatan Kejajar, ternyata tersimpan sebuah keunikan yang hingga kini masih menyisakan misteri. Sebongkah batu berukuran besar yang bentuknya menyerupai Semar, tokoh pewayangan yang dikenal sebagai sosok bijaksana dan pengayom, menjadi perhatian warga maupun pengguna jalan yang melintas.
Batu unik tersebut berada di tepi ruas jalan penghubung Desa Sikunang–Sembungan, tidak jauh dari basecamp pendakian Gunung Bismo. Sekilas, siluet batu itu tampak menyerupai sosok Semar yang sedang duduk, sehingga oleh masyarakat sekitar lebih dikenal sebagai Batu Semar.
Keberadaan batu tersebut diyakini telah ada sejak puluhan tahun silam. Namun hingga kini, belum ada catatan sejarah maupun cerita turun-temurun yang dapat memastikan asal-usul atau makna di balik batu yang menjadi ikon alami tersebut.
Salah seorang warga Desa Sikunang, Gianto, mengatakan batu itu sudah ada sejak dirinya masih kecil. Meski demikian, masyarakat belum mengetahui secara pasti bagaimana sejarah kemunculannya.
“Belum diketahui cerita yang sesungguhnya terkait keberadaan batu tersebut, karena sampai sekarang belum ada narasumber yang mengetahui kisah adanya Batu Semar di wilayah Desa Sikunang,” ungkap Gianto.

Minimnya informasi justru membuat Batu Semar semakin memancing rasa penasaran. Sebagian warga menganggapnya hanya sebagai fenomena alam, sementara lainnya meyakini batu tersebut menyimpan nilai sejarah maupun cerita rakyat yang belum terungkap.
Dengan lokasinya yang berada di jalur wisata menuju kawasan Dieng dan dekat dengan basecamp pendakian Gunung Bismo, Batu Semar berpotensi menjadi destinasi wisata geologi sekaligus wisata budaya apabila sejarah dan cerita di baliknya berhasil ditelusuri lebih lanjut.
Kini, pertanyaannya masih menggantung: apakah Batu Semar hanya kebetulan terbentuk oleh alam, ataukah menyimpan jejak legenda yang belum pernah terungkap? Misteri itu hingga kini masih menjadi bagian dari cerita yang hidup di tengah masyarakat Sikunang.***(Ndikrom)
