Di Balik Jambore Forpik Genesis Kepil: Mampukah Forum Anak Menjadi Agen Perubahan atau Sekadar Seremonial?

Bidik Ekspres.id l Wonosobo

Di tengah meningkatnya berbagai persoalan yang mengancam remaja, mulai dari kenakalan, pernikahan usia dini, hingga penyalahgunaan media digital, Pemerintah Kecamatan Kepil memilih langkah berbeda. Melalui Jambore Forpik Genesis dan pengukuhan Pengurus Forum Anak Kecamatan Kepil Masa Bakti 2025–2028, pemerintah berupaya menyiapkan generasi muda sebagai pelopor perubahan, bukan sekadar penonton.

Pertanyaannya, apakah Forum Anak benar-benar akan menjadi kekuatan sosial di desa-desa, atau hanya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan?

Kegiatan yang digelar di Pendopo Kecamatan Kepil pada 4–5 Juli 2026 itu menjadi momentum penting bagi lahirnya kepengurusan baru Forum Anak. Pengukuhan dilakukan langsung oleh Camat Kepil sebagai bentuk komitmen pemerintah menghadirkan ruang partisipasi bagi anak dan remaja.

Mengusung tema “Membangun Generasi Berkarakter, Kreatif, Berdaya Saing Menuju Remaja Hebat dan Berprestasi”, jambore ini mempertemukan perwakilan anak dan remaja dari seluruh desa dan kelurahan di Kecamatan Kepil.

Dalam sambutannya, Camat Kepil menegaskan bahwa Forum Anak tidak boleh hanya menjadi organisasi pelengkap administrasi, melainkan harus hadir sebagai wadah yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang berani menyuarakan aspirasi, menggerakkan kegiatan positif, serta menjadi contoh bagi teman sebayanya.

“Saya berharap Forum Anak Kecamatan Kepil menjadi ruang bagi anak-anak untuk tumbuh, berkarya, dan berpartisipasi dalam pembangunan. Jangan hanya berhenti pada seremoni pengukuhan, tetapi buktikan dengan program nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Jadilah generasi yang berkarakter, kreatif, berprestasi, serta mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” tegas Camat Kepil.

Pemerintah menargetkan setiap peserta kembali ke desanya sebagai agen perubahan, membawa edukasi tentang kepemimpinan, perencanaan masa depan, pencegahan perilaku berisiko, hingga penguatan karakter di lingkungan sebaya.

Kolaborasi antara DPPKBPPPA Kabupaten Wonosobo, Pemerintah Kecamatan Kepil, TP PKK Kecamatan Kepil, Duta GenRe Kabupaten Wonosobo, serta mahasiswa KKN PPM UGM menjadi bukti bahwa pembinaan generasi muda membutuhkan keterlibatan lintas sektor, bukan hanya pemerintah semata.

Berbagai materi disampaikan dengan pendekatan peer-to-peer sehingga pesan yang diberikan diharapkan lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Camat Kepil, keberhasilan Forum Anak nantinya tidak diukur dari banyaknya kegiatan seremonial, tetapi dari dampak nyata yang mampu dirasakan masyarakat melalui keterlibatan aktif para remaja dalam menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan produktif.

Kini, sorotan publik tertuju pada langkah nyata para pengurus baru. Akankah mereka menjawab harapan sebagai wajah baru generasi Kepil yang berkarakter, kreatif, dan berdaya saing, atau justru tenggelam menjadi organisasi yang hanya hidup saat agenda seremonial berlangsung? Waktu yang akan menjawab.***