BPBD Kabupaten Bekasi Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Puncak Kemarau Juli Hingga September 2026

Bidik Ekspres.id | Kab Bekasi

Ancaman kekeringan di Kabupaten Bekasi mulai menunjukkan dampak nyata. Menyambut puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi meningkatkan status kesiapsiagaan guna mengantisipasi meluasnya krisis air bersih di sejumlah wilayah.

Langkah cepat tersebut diambil setelah masyarakat mulai mengajukan permintaan bantuan air bersih sejak awal Juni, menandakan berkurangnya ketersediaan air di beberapa daerah yang selama ini dikenal sebagai langganan kekeringan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan intensif terhadap wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi mengalami kekeringan, terutama kawasan selatan seperti Cibarusah, Serang Baru, dan Bojongmangu.

“Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, wilayah tersebut selalu menjadi perhatian utama karena sering mengalami kekeringan saat musim kemarau,” ujarnya di Kantor BPBD Kabupaten Bekasi, Kompleks Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat.

Menurut Dodi, informasi dari BMKG menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga potensi kekeringan dan krisis air bersih perlu diantisipasi sejak dini.

“Kondisinya sudah mulai terasa. Sejak 9 Juni lalu masyarakat sudah mulai mengajukan permintaan bantuan air bersih,” katanya.

Hingga pertengahan Juni 2026, BPBD Kabupaten Bekasi telah menyalurkan sedikitnya 65.000 liter air bersih kepada warga di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, dan Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru. Bantuan tersebut telah dimanfaatkan oleh 999 kepala keluarga yang terdampak kekeringan.

Selain melakukan distribusi air bersih, BPBD juga memperkuat koordinasi dengan perangkat daerah terkait serta penyedia layanan air guna memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

“Kami terus memperluas koordinasi agar pelayanan air bersih dapat menjangkau lebih banyak wilayah, terutama daerah yang memiliki risiko tinggi mengalami kekeringan,” jelas Dodi.

Tidak hanya fokus pada penanganan darurat, BPBD juga mendorong pembangunan sumber-sumber air alternatif sebagai langkah mitigasi jangka panjang. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan air bersih masyarakat sehingga tidak selalu bergantung pada bantuan ketika musim kemarau tiba.

Saat ini, status penanganan kekeringan di Kabupaten Bekasi masih berada pada tahap siaga darurat. Personel dan armada distribusi air bersih telah disiapkan untuk diterjunkan sewaktu-waktu apabila terdapat wilayah lain yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

BPBD juga mengimbau masyarakat agar tidak menunggu kondisi semakin parah sebelum melapor. Partisipasi aktif warga dinilai menjadi kunci agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat, tepat sasaran, dan mampu meminimalkan dampak sosial akibat kekeringan.

Musim kemarau bukan sekadar fenomena cuaca, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sumber daya air secara bijaksana. Penghematan penggunaan air, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkuat cadangan air bersih merupakan tanggung jawab bersama agar masyarakat lebih tangguh menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.***

Editor: Sugiono
Sumber: Pemkab Bekasi