Bun Upas Kembali Selimuti Dieng, Fenomena “Salju Tropis” yang Memukau Sekaligus Mengancam Petani

Bidik Ekspres.id l Wonosobo

Fenomena alam khas Dataran Tinggi Dieng kembali menjadi perhatian masyarakat. Bun Upas atau embun es yang kerap dijuluki “salju tropis” muncul saat suhu udara di kawasan Dieng turun drastis hingga mendekati bahkan di bawah titik beku. Kristal-kristal es tipis tampak menyelimuti rerumputan, daun tanaman, hingga atap rumah warga, menciptakan pemandangan bak negeri bersalju. Selasa 9/6/2026

Bun Upas merupakan embun yang membeku akibat suhu udara sangat rendah pada malam hingga dini hari. Fenomena ini umumnya terjadi saat musim kemarau, terutama pada periode Juni hingga September, ketika angin muson Australia membawa massa udara dingin dan kering ke wilayah Indonesia. Kondisi langit yang cerah serta minim tutupan awan mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi sehingga suhu di Dieng turun ekstrem.

Bagi wisatawan, kemunculan Bun Upas menjadi daya tarik tersendiri. Hamparan kristal es yang berkilau saat terkena sinar matahari pagi sering diburu fotografer dan wisatawan dari berbagai daerah. Fenomena langka di wilayah tropis ini bahkan kerap viral di media sosial karena menyerupai salju yang biasa ditemukan di negara empat musim.

Namun di balik keindahannya, Bun Upas menyimpan ancaman bagi para petani. Dalam bahasa Jawa, “upas” berarti racun. Julukan tersebut muncul karena embun beku dapat merusak tanaman pertanian, terutama kentang yang menjadi komoditas utama masyarakat Dieng. Daun dan batang tanaman yang terkena embun es berpotensi menguning, layu, bahkan mati sehingga mengakibatkan gagal panen.

Fenomena ini menjadi bukti keunikan iklim mikro Dataran Tinggi Dieng yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Meski berada di negara tropis, kawasan ini mampu menghadirkan sensasi musim dingin yang jarang ditemukan di wilayah lain Indonesia.

Bun Upas tidak hanya menjadi daya tarik wisata alam, tetapi juga pengingat bahwa keindahan alam sering kali hadir berdampingan dengan tantangan bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.***