BGN Tegaskan Ibu Hamil dan Balita Jadi Prioritas Utama MBG, Namun Penerima Terbesar Masih Didominasi Siswa

Bidik Ekspres.id | Jakarta

Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal dirancang untuk menyasar kelompok paling rentan terhadap masalah gizi, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang berada dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Namun di tengah penegasan tersebut, data penerima manfaat hingga Mei 2026 justru menunjukkan bahwa kelompok peserta didik masih menjadi penerima terbesar program unggulan pemerintah tersebut.

Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, menjelaskan bahwa fokus utama MBG bukan semata-mata untuk siswa sekolah. Menurutnya, program ini dibangun dengan tujuan memperkuat kualitas gizi kelompok rentan yang berada pada fase paling krusial dalam siklus kehidupan manusia.
“Ibu hamil, ibu menyusui, dan balita pada periode 1.000 HPK merupakan sasaran prioritas utama. Kelompok ini menjadi perhatian karena kualitas gizi pada fase tersebut sangat menentukan kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak di masa mendatang,” ujarnya.

BGN menilai investasi gizi pada masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun merupakan langkah strategis untuk menekan angka stunting, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperkuat fondasi kesehatan generasi mendatang. Karena itu, kelompok tersebut ditempatkan sebagai penerima manfaat utama dalam desain awal program.

Namun, realitas implementasi di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda. Berdasarkan data penerima manfaat yang dipublikasikan BGN hingga Mei 2026, peserta didik masih mendominasi distribusi program MBG dengan jumlah penerima yang jauh lebih besar dibandingkan ibu hamil, ibu menyusui, maupun balita.

Fakta tersebut memunculkan pertanyaan di ruang publik mengenai sejauh mana pelaksanaan program telah berjalan sesuai dengan tujuan awal yang dicanangkan pemerintah. Sejumlah pengamat menilai perlu dilakukan evaluasi terhadap pola distribusi agar kelompok yang disebut sebagai prioritas utama benar-benar memperoleh porsi manfaat yang seimbang dan tepat sasaran.

Di sisi lain, pemerintah beralasan bahwa pelaksanaan MBG dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, jaringan distribusi, serta kapasitas satuan pelayanan di berbagai daerah. Faktor tersebut disebut turut memengaruhi komposisi penerima manfaat pada fase awal implementasi program.

Meski demikian, perbedaan antara prioritas yang disampaikan pemerintah dan komposisi penerima manfaat yang terlihat dalam data resmi menjadi sorotan yang sulit diabaikan.

Publik kini menunggu langkah konkret pemerintah untuk memastikan bahwa kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang disebut sebagai jantung utama Program Makan Bergizi Gratis benar-benar menjadi penerima manfaat terbesar sebagaimana tujuan awal program tersebut.

“Jika kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan prioritas utama, maka keberhasilan MBG akan diukur dari seberapa besar program ini mampu menjangkau mereka, bukan semata dari tingginya jumlah peserta didik yang menerima manfaat.”***

Editor: Redaksi