Hari Jadi ke-110 Sleman “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman” Jadi Momentum Introspeksi, Sri Sultan HB X: Pembangunan Tak Cukup Kejar Kemajuan Fisik

Bidik Ekspres.id | Kab Sleman

Peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman tidak sekadar menjadi seremoni tahunan ataupun perayaan usia daerah. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, momentum tersebut harus dijadikan titik refleksi dan introspeksi bersama dalam membangun Sleman secara utuh, tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata.

Pernyataan itu disampaikan Sri Sultan saat memimpin Upacara Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman yang digelar di Lapangan Denggung Sleman, Sabtu (23/05).

Mengusung tema “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman”, Sri Sultan menilai filosofi tersebut memiliki makna mendalam tentang tanggung jawab moral dan sosial dalam membangun daerah.
“Pembangunan Sleman bukan hanya soal mengejar kemajuan lahiriah. Membangun Sleman berarti ikut menggendong harapan rakyat, memikul tanggung jawab bersama, menjaga bumi, merawat kerukunan, serta mengupayakan keselamatan bagi seluruh kehidupan,” tegas Sri Sultan dalam amanatnya.

Ia menekankan, Hari Jadi Sleman harus menjadi momentum mulat sarira atau refleksi diri, untuk mengevaluasi perjalanan pembangunan yang telah dilalui sekaligus memperbaiki berbagai kekurangan demi mewujudkan Sleman yang lebih ayom, tenteram, sejahtera, lestari, dan bermartabat.

Menurut Sri Sultan, makna “rahayu” tidak sekadar dimaknai sebagai kondisi aman dari ancaman atau bencana. Lebih dari itu, rahayu merupakan simbol ketenteraman batin, kuatnya ikhtiar, tumbuhnya kasih sayang, serta hidupnya daya masyarakat untuk terus bergerak maju tanpa tercerabut dari akar budaya.

Filosofi tersebut, lanjut Sri Sultan, selaras dengan ajaran luhur Ngayogyakarta Hamemayu Hayuning Bawana yang mengandung nilai kemanusiaan dalam Tri Satya Brata. Nilai itu bersumber dari ajaran agung warisan Sultan Agung Hanyakrakusuma, yakni “Mangasah Mingising Budi, Memasuh Malaning Bumi, Memayu Hayuning Bawana.”

“Rahayuning bawana kapurba waskithaning manungsa memiliki arti keselamatan dunia ditentukan oleh kejernihan batin dan kewaskitaan manusia. Sementara dharmaning manungsa mahanani rahayuning nagara berarti pengabdian manusia melahirkan keselamatan nagari,” paparnya.

Sri Sultan juga mengingatkan bahwa keselamatan manusia sejatinya lahir dari kesadaran kemanusiaan dalam diri setiap individu.
“Rahayuning manungsa dumadi amarga rasa kamanungsaning sarira piyambak. Artinya, keselamatan manusia lahir dari kesadaran kemanusiaan di dalam dirinya sendiri,” tandasnya.

Peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman tahun ini menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, melainkan juga dari kemampuan menjaga harmoni sosial, kelestarian budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus modernisasi.***

Editor: Redaksi
Sumber: Humas Prov DIY