Ondo Budha: Jejak Sunyi Penjaga Peradaban Tua di Dataran Tinggi Dieng

Bidik Ekspres.id l Wonosobo
Senin 18/05 Kabut tipis turun perlahan di lereng pegunungan Dieng. Udara dingin menusuk tulang. Di tengah lanskap sunyi itu, masyarakat tua Dieng mewariskan sebuah kisah yang hingga kini masih hidup dari mulut ke mulut tentang Ondo Budha, jalan batu kuno yang dipercaya menjadi jalur suci para pendeta dan leluhur masa lampau.
Di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Ondo Budha bukan sekadar tumpukan batu bertingkat. Ia dianggap sebagai “urat nadi” peradaban kuno yang menghubungkan kawasan pemukiman, tempat ritual, hingga kompleks candi di atas awan.
Konon, sebelum jalan modern menembus pegunungan, para resi berjalan kaki melewati Ondo Budha sambil membawa sesaji dan api suci menuju kompleks candi. Langkah mereka menyusuri batu-batu andesit di tengah hawa dingin ekstrem Dieng yang dikenal angker dan mistis.

Nama “Ondo” sendiri berarti tangga. Sedangkan “Budha” diyakini merujuk pada masa pengaruh Hindu-Buddha kuno di tanah Jawa. Masyarakat percaya jalur itu dibuat ratusan tahun lalu sebagai akses spiritual menuju pusat peribadatan kuno Dieng.
Sebagian warga bahkan meyakini Ondo Budha menyimpan energi gaib. Tidak sedikit cerita tentang pendaki atau peziarah yang mengaku mendengar suara gamelan samar, bau dupa, hingga sosok berjubah yang muncul saat kabut turun tebal.
Meski sulit dibuktikan secara ilmiah, kisah-kisah itu justru memperkuat aura misterius kawasan Dieng. Terlebih, wilayah ini memang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban tua di Jawa dengan peninggalan kompleks Candi Arjuna dan candi-candi kuno lain yang berdiri di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.
Ironisnya, keberadaan Ondo Budha kini mulai jarang diperhatikan. Sebagian jalur tertutup semak, tergerus erosi, bahkan terancam aktivitas wisata dan pembukaan lahan. Padahal, di balik batu-batu tuanya, tersimpan potongan sejarah panjang tentang bagaimana Dieng pernah menjadi pusat spiritual penting di Pulau Jawa.
Bagi warga setempat, Ondo Budha bukan sekadar situs kuno. Ia adalah saksi bisu perjalanan leluhur. Jalan sunyi yang tetap bertahan melawan zaman, menjaga rahasia peradaban tua di negeri atas awan.***
