Gubernur Dedi Mulyadi Gaungkan Spirit Sunda di Kirab Mahkota Binokasih di Kabupaten Karawang: “Cinta dan Sejarah Jangan Sampai Hilang”

Bidik Ekspres.id | Kab Karawang

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menggugah kesadaran sejarah dan identitas budaya masyarakat Sunda melalui prosesi sakral Kirab Mahkota Binokasih di Kabupaten Karawang, Sabtu 9/5.

Dalam suasana penuh khidmat dan nuansa budaya, Dedi menyampaikan pesan mendalam tentang cinta, persatuan, dan akar sejarah Tanah Pasundan.
“Mulangkeun rasa ka cinta, malikeun rasa ka asih,” ujar Dedi Mulyadi di hadapan ribuan masyarakat dan tokoh budaya yang memadati jalur kirab budaya.

Ucapan tersebut bukan sekadar kalimat puitis. Dedi menegaskan bahwa sejarah besar Tanah Sunda lahir dari nilai kasih sayang, persatuan, dan penghormatan terhadap leluhur. Ia mengulas kembali kisah pertemuan Prabu Siliwangi atau Pangeran Jaya Dewata dengan Nyi Subang Larang di Karawang, yang kemudian melahirkan Raden Walang Sungsang, tokoh penting dalam lahirnya kerajaan Islam pertama di Tatar Pasundan.
“Ratusan tahun lalu, sebuah pertemuan melahirkan keturunan. Dari sana lahir Caruban, Kacirebonan hingga Kesultanan Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan,” ungkapnya.

Kirab Mahkota Binokasih bukan hanya menjadi seremoni budaya, tetapi juga simbol kebangkitan identitas Sunda di tengah derasnya arus modernisasi. Dalam acara tersebut, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake diperlakukan sebagai simbol agung yang merepresentasikan keberanian, kebijaksanaan dan kewibawaan para pemimpin Sunda masa lampau.

Mahkota itu dinilai bukan sekadar peninggalan kerajaan, melainkan warisan nilai yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin lahir dari cinta kepada rakyat dan kebijaksanaan dalam memimpin.

Sebelum prosesi kirab dimulai, Dedi Mulyadi bersama sejumlah tokoh adat dan pejabat daerah mengikuti ritual “Lesehan Khidmat” sebagai bagian dari napak tilas sejarah Tatar Sunda. Prosesi berlangsung sakral dan penuh penghormatan terhadap nilai budaya leluhur.

Kirab budaya kemudian berlangsung meriah. Gubernur Jawa Barat bersama Aep Syaepuloh dan Maslani turut mengiringi kereta kencana pembawa Mahkota Binokasih dengan menunggang kuda di sepanjang rute kirab.

Ribuan warga memadati jalanan Karawang untuk menyaksikan pertunjukan budaya dari 27 kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Beragam kesenian tradisional ditampilkan, mulai dari Jajangkungan hingga Topeng Banjet khas Karawang yang menjadi simbol kekayaan budaya Pasundan.

Momentum tersebut sekaligus menjadi pesan kuat bahwa budaya Sunda bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Di tengah perubahan zaman, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa sejarah, budaya dan jati diri daerah tidak boleh kehilangan tempat di tanahnya sendiri.***

Editor: Redaksi