Surodilogo: Antara Mata Air Abadi, Laku Spiritual, dan Ancaman yang Mengintai

Bidik Ekspres.id l Wonosobo

Di lereng sunyi Desa Pagerejo, Kecamatan Kertek, ada satu titik yang tak pernah benar-benar sepi “Surodilogo”. Bukan sekadar pancuran mata air, tempat ini hidup dalam dua dunia – alam nyata dan ruang kepercayaan yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan logika.

Airnya jernih, mengalir tanpa jeda. Warga datang membawa jeriken, sebagian lainnya datang dengan niat yang tak kasat mata. Doa, harapan, hingga laku tirakat bertemu dalam satu ruang yang sama.

Namun, Surodilogo bukan sekadar sumber air, Ia adalah cerita. Konon, mata air ini lahir dari pelarian. Sosok Ki Joko Suro, yang diyakini tengah diburu pasukan kolonial pada masa Perang Jawa, menancapkan tongkatnya ke tanah. Dari titik itulah air memancar – dan tak pernah berhenti hingga hari ini.

Cerita itu mungkin tak tertulis dalam arsip sejarah resmi. Tapi di Surodilogo, sejarah tak selalu butuh kertas – ia hidup dalam ingatan, diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Setiap malam 1 Suro, suasana berubah. Hening terasa lebih dalam. Sejumlah peziarah datang, sebagian diam, sebagian larut dalam ritual. Air diambil, doa dilantunkan, dan keyakinan dipelihara.

Di sinilah Surodilogo menjadi lebih dari sekadar tempat – ia adalah ruang spiritual. Namun di balik kesakralan itu, ancaman perlahan tumbuh.

Perubahan mulai terasa. Hutan di sekitar kawasan tak lagi sepadat dulu. Aktivitas manusia merangsek masuk – pembukaan lahan, tekanan wisata, hingga eksploitasi yang tak terkelola.

Seorang pemerhati alam pegunungan yang enggan disebut namanya menyebut, kerusakan itu nyata, meski sering diabaikan.

“Kalau hutan rusak, sumber air ini bisa ikut hilang. Surodilogo tidak akan abadi kalau alamnya tidak dijaga,” ujarnya. Sabtu 09/05

Pernyataan itu menjadi semacam alarm sunyi – peringatan yang tak terdengar keras, tapi menyimpan konsekuensi panjang.

Surodilogo kini berdiri di persimpangan. Di satu sisi, ia dijaga oleh kepercayaan dan tradisi. Di sisi lain, ia terancam oleh perubahan yang pelan tapi pasti.

Modernitas datang membawa peluang, tapi juga risiko. Wisata bisa menghidupkan, sekaligus menggerus.

Dan di tengah semua itu, Surodilogo tetap mengalir. Seolah mengingatkan yang abadi bukan hanya airnya, tapi juga pilihan manusia – untuk menjaga, atau membiarkan hilang.***