Kirab Budaya “Nyukcruk Galur Galunggung” Menggema, Mahkota Binokasih Dihadirkan: Simbol Kedaulatan Sunda Kembali Ditegaskan

Bidik Ekspres.id | Kab Tasikmalaya
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan budaya leluhur melalui gelaran Kirab Budaya Tatar Sunda ke-3 bertajuk “Nyukcruk Galur Galunggung” yang berlangsung khidmat di halaman Setda, Senin malam 4/5.
Acara yang dihadiri langsung oleh Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin bersama Wakil Bupati Asep Sopari Al-Ayubi ini mencapai puncak sakral saat pusaka legendaris Mahkota Binokasih dihadirkan dan disambut penuh penghormatan.
Mahkota tersebut bukan sekadar simbol, melainkan representasi kedaulatan dan kejayaan peradaban Sunda yang mengakar kuat dalam sejarah Sukapura. Prosesi penyambutan berlangsung khidmat, menandai kesinambungan nilai-nilai luhur yang telah terjaga lintas generasi.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa kirab budaya ini bukan hanya seremoni, tetapi momentum untuk meneguhkan identitas dan jati diri masyarakat Tasikmalaya. Ia mengingatkan bahwa sejarah panjang sejak 1632 yang menghubungkan Galunggung dan Sumedang telah melahirkan karakter masyarakat Tasikmalaya yang berlandaskan nilai luhur dan martabat.
“Warisan ini bukan untuk dikenang semata, tetapi menjadi pijakan dalam membangun masa depan,” tegasnya.

Kirab budaya ini juga menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah daerah dalam menelusuri kembali jejak sejarah yang berakar dari kawasan Gunung Galunggung sebuah titik penting lahirnya nilai-nilai kearifan lokal yang hingga kini menjadi fondasi pembangunan daerah.
Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Sekda Jabar Herman Suryatman, serta Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan, bersama unsur Forkopimda dan jajaran pemerintah daerah.
Kirab Budaya Tatar Sunda ke-3 ini menjadi penegasan bahwa perjalanan Kabupaten Tasikmalaya tidak dapat dipisahkan dari akar sejarah dan budaya leluhur. Di tengah arus modernisasi, pemerintah daerah memilih berdiri tegak: menjaga warisan, merawat identitas, dan menjadikannya kompas dalam menapaki masa depan.***
Editor: Redaksi
