Kirab Mahkota Binokasih Menggema, Kirab Milangkala Tatar Sunda Bangkitkan Identitas Budaya dan Gairahkan Ekonomi Sumedang

Bidik Ekspres.id | Kab Sumedang
Ribuan warga Sumedang memadati ruas jalan di sepanjang rute Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda yang digelar di Kabupaten Sumedang, Sabtu 2/5. Gelombang massa dari berbagai kalangan itu menunjukkan antusiasme tinggi terhadap perhelatan budaya yang sarat nilai historis sekaligus simbol kebangkitan identitas Sunda.
Kirab berlangsung megah dengan dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menunggang kuda sembari membawa Mahkota Binokasih—pusaka asli peninggalan Kerajaan Sunda yang menjadi simbol kebesaran dan legitimasi sejarah Tatar Sunda.
Iring-iringan kirab turut diikuti Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati M Fakar Aldila, unsur Keraton Sumedang Larang, serta delegasi seni dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Kehadiran mereka mempertegas posisi Sumedang sebagai simpul penting dalam narasi kebudayaan Sunda.
Rute kirab dimulai dari Keraton Sumedang Larang dan berakhir di Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS). Setibanya di lokasi akhir, masing-masing perwakilan daerah menampilkan ragam kesenian khas yang memperkaya warna budaya sekaligus menjadi etalase kekayaan tradisi Sunda yang masih hidup dan berkembang.

Kabupaten Sumedang sendiri menampilkan tari umbul, sebuah karya seni yang merepresentasikan semangat kolektif dan kekuatan budaya lokal. Penampilan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam rangkaian acara.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menegaskan bahwa kirab ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah strategis dalam menguatkan identitas budaya Sunda. Ia menekankan pentingnya Mahkota Binokasih sebagai simbol jati diri yang harus terus dijaga dan diwariskan.
“Kirab ini mengingatkan kita pada akar sejarah dan identitas sebagai masyarakat Sunda. Ini bukan hanya simbol, tetapi juga pijakan nilai,” tegasnya.
Lebih jauh, Dony menyebut kegiatan ini berdampak langsung terhadap pergerakan ekonomi masyarakat serta mendorong sektor pariwisata daerah. Lonjakan pengunjung selama kegiatan berlangsung menjadi indikasi kuat bahwa event budaya mampu menjadi motor ekonomi lokal.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti pentingnya mengembalikan karisma Mahkota Binokasih sebagai ikon budaya Sunda. Ia mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah, Keraton Sumedang Larang, dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya.
“Antusiasme masyarakat luar biasa. Ini bukti bahwa budaya bukan hanya masa lalu, tapi kekuatan masa depan,” ujar Dedi.
Namun demikian, ia juga mengingatkan perlunya evaluasi dan penataan yang lebih sistematis terhadap pengembangan seni dan budaya daerah agar tidak berhenti sebagai seremoni tahunan semata, melainkan menjadi ekosistem budaya yang berkelanjutan.
Secara historis, Sumedang memang memiliki posisi strategis sebagai tempat penyimpanan Mahkota Binokasih, simbol penting dalam perjalanan sejarah Sunda. Penetapan Sumedang sebagai titik awal Kirab Budaya Tatar Sunda pun dinilai tepat secara kultural maupun historis.
Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda tahun ini tidak hanya menjadi tontonan massal, tetapi juga menjelma sebagai ruang refleksi kolektif—mengajak masyarakat kembali mengenali, mencintai, dan merawat warisan budaya sebagai identitas yang tak terpisahkan dari masa depan.***
Editor: Redaksi
