KPPM STIT Bandung Disambut Hangat, Kades Pusakajaya Pasirkuda Cianjur Titip Harapan Besar dan Pesan Tegas Bagi Mahasiswa Dan Kampus

Bidik Ekspres.id | Kab Cianjur
Kehadiran mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bandung dalam program Kuliah Praktik Pengabdian Masyarakat (KPPM) di Desa Pusakajaya, Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, tidak hanya disambut sebagai kegiatan akademik semata, tetapi juga sebagai momentum penting untuk mendorong perubahan nyata di tingkat desa.
Kepala Desa Pusakajaya, Nurkosim, S.Pd, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas dipilihnya wilayahnya sebagai lokasi pengabdian mahasiswa. Ia menilai kehadiran mahasiswa menjadi energi baru bagi masyarakat, khususnya dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan kesadaran sosial.
“Atas nama pemerintah desa dan seluruh masyarakat Pusakajaya, kami mengucapkan terima kasih kepada STIT Bandung yang telah mempercayakan desa kami sebagai lokasi KPPM. Ini adalah kehormatan sekaligus peluang besar bagi kami untuk berkembang bersama,” ujar Nurkosim.
Namun di balik apresiasi tersebut, ia juga menyampaikan harapan yang tegas dan terukur. Nurkosim menekankan bahwa program KPPM harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar menjalankan agenda formalitas kampus.
Dirinya berharap mahasiswa dapat:
• Menghadirkan program pendidikan yang menyentuh langsung anak-anak dan generasi muda desa
• Membantu meningkatkan literasi masyarakat, baik dalam bidang keagamaan maupun pengetahuan umum
• Memberikan pendampingan nyata bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan sosial dan ekonomi
• Menciptakan inovasi sederhana namun berdampak, yang bisa dilanjutkan oleh warga setelah program selesai

“Kami berharap mahasiswa tidak hanya datang membawa program, tetapi juga membawa semangat perubahan. Tinggalkan sesuatu yang bisa kami lanjutkan, bukan hanya kenangan seremonial,” tegasnya.
Lebih jauh, ia juga berharap terjalin hubungan jangka panjang antara STIT Bandung dan Desa Pusakajaya, sehingga kolaborasi tidak berhenti pada kegiatan KPPM semata.
“Kalau bisa, ini menjadi awal kerja sama berkelanjutan. Desa kami terbuka untuk menjadi mitra pembelajaran dan pengembangan bagi dunia akademik,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Harmoni Cendekia Insani, Prof. Dr. H. Cecep Wahyu Haerudin, M.Pd, menegaskan bahwa kepercayaan dari masyarakat desa merupakan amanah besar yang harus dijaga oleh mahasiswa.
Ia menyampaikan bahwa KPPM adalah ruang pembelajaran nyata yang tidak hanya menguji kemampuan intelektual, tetapi juga kepekaan sosial dan integritas mahasiswa.

“Kami sangat mengapresiasi keterbukaan dan dukungan dari Pemerintah Desa Pusakajaya. Ini adalah kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat, sekaligus mengamalkan ilmu yang dimiliki,” ujar Prof. Cecep.
Ia juga menekankan bahwa mahasiswa harus mampu membangun pendekatan yang humanis dan partisipatif, sehingga program yang dijalankan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Mahasiswa harus hadir dengan empati, bukan merasa paling tahu. Dengarkan masyarakat, pahami kebutuhan mereka, lalu berikan kontribusi terbaik,” tegasnya.
Kegiatan KPPM STIT Bandung di Desa Pusakajaya diharapkan menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi mampu hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan sosial.
Dengan sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, program ini diharapkan mampu meninggalkan jejak pengabdian yang nyata, berkelanjutan, dan bermakna bagi masa depan Desa Pusakajaya.***
Editor: Redaksi
