Ketua STIT Bandung H. Ii Somantri:
Mahasiswa STIT Bandung Turun ke Desa, KPPM Jadi Bukti Nyata Ilmu Tak Hanya di Ruang Kelas

Bidik Ekspres.id | Kab Cianjur

Komitmen perguruan tinggi dalam mencetak generasi intelektual yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap realitas sosial, kembali ditegaskan melalui kegiatan Kuliah Praktik Pengabdian Masyarakat (KPPM) yang dilaksanakan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bandung di Dusun 1 Pasirkuda, Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur.

Program ini menjadi implementasi konkret dari tridarma perguruan tinggi, khususnya aspek pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dari berbagai program studi seperti Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) diterjunkan langsung untuk berinteraksi, belajar, sekaligus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat desa.

KPPM bukan sekadar kegiatan seremonial atau rutinitas akademik. Lebih dari itu, program ini merupakan “laboratorium sosial” tempat mahasiswa menguji relevansi teori pendidikan yang selama ini dipelajari di bangku kuliah dengan dinamika kehidupan nyata di masyarakat.

Ketua STIT Bandung, H. Ii Somantri, S.Ip., S.Ag., M.Ag., dalam arahannya menegaskan bahwa KPPM adalah bagian penting dalam pembentukan karakter mahasiswa. Ia mengingatkan agar seluruh peserta menjaga nama baik almamater, bekerja dengan hati, serta menjunjung tinggi keselamatan dan kekompakan selama menjalankan tugas pengabdian.
“Mahasiswa harus mampu menjadi representasi kampus yang membawa nilai-nilai keilmuan sekaligus keteladanan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Ketua Yayasan Harmoni Cendekia Insani, Prof. Dr. H. Cecep Wahyu Haerudin, M.Pd., serta Kepala Desa Pusaka Jaya, Nurkosim, S.Pd., yang memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan KPPM.

Pihak kampus juga menegaskan bahwa KPPM merupakan salah satu bentuk implementasi tridarma yang dahulu dikenal dengan istilah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Meski nomenklatur dapat berbeda antar perguruan tinggi sebagai bagian dari otonomi akademik, esensi kegiatan ini tetap sama, yakni membangun sinergi antara dunia pendidikan dan kebutuhan masyarakat.

Secara pedagogis, KPPM memiliki nilai strategis dalam membentuk kompetensi mahasiswa sebagai calon pendidik. Mereka tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan pendekatan pembelajaran kontekstual, memahami karakter peserta didik di lingkungan berbeda, serta mengembangkan keterampilan sosial seperti komunikasi, empati, dan kepemimpinan.

Kepala Desa Pusaka Jaya, Nurkosim, S.Pd., menyambut baik kehadiran mahasiswa dan berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. Ia juga menyatakan kesiapan pemerintah desa untuk membimbing serta memberikan arahan agar program berjalan efektif dan tepat sasaran.
“Sinergi antara mahasiswa dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan perubahan kecil yang berdampak besar, terutama dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

KPPM STIT Bandung di Pasirkuda menjadi bukti bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ketika mahasiswa hadir dan menyatu dengan masyarakat, di situlah ilmu menemukan makna sejatinya—memberi manfaat, membangun peradaban, dan menumbuhkan harapan.***

Editor: Redaksi