Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Serukan “Sumedang Bangkit”: Tinggalkan Mental ‘Kurung Batok’, Perkuat Identitas dan Lindungi Alam

Bidik Ekspres.id | Kab Sumedang
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi melontarkan pesan keras sekaligus reflektif kepada masyarakat Sumedang: jika ingin maju, warga harus berani keluar dari zona nyaman dan meninggalkan pola pikir tertutup atau “kurung batok”.
Pesan itu disampaikan dalam gelaran Ekosistem Budaya Kasumedangan di Alun-alun Sumedang, Jumat malam (24/4). Dalam pidatonya, Dedi menegaskan pentingnya membangun kualitas sumber daya manusia yang berani bersaing, memiliki kepemimpinan, serta menjunjung tinggi martabat dan kepribadian.
“Banyak orang sukses karena berani keluar dari daerahnya. Sumedang harus naik derajat, masyarakatnya harus punya kepemimpinan, kepribadian, dan sikap satria,” tegasnya.
Tak hanya soal mentalitas, Dedi juga mengingatkan kembali akar sejarah Sumedang sebagai kerajaan terakhir yang mewarisi Mahkota Binokasih—simbol penting dari kejayaan Padjadjaran. Ia menilai, warisan sejarah tersebut harus menjadi pijakan untuk membangun kembali identitas dan kebanggaan daerah.
“Kalau tidak ada Sumedang Larang, mungkin kita tidak tahu keberadaan Mahkota Binokasih. Ini bukan sekadar sejarah, tapi identitas,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Dedi turut mendorong penguatan ekonomi berbasis lokal. Ia meminta masyarakat untuk lebih mencintai dan membanggakan produk asli daerah, alih-alih mengagungkan produk luar. Komoditas khas seperti Tahu Sumedang, Ubi Cilembu, dan Sawo Sukatali disebut sebagai potensi besar yang harus dibangun branding-nya secara serius.

“Bangun citra daerah dari produk sendiri. Katakan Sumedang itu bagus, jangan bandingkan dengan daerah lain. Itu yang akan menarik orang datang,” katanya.
Di sisi lain, Dedi juga menyoroti wajah infrastruktur dan tata kota, khususnya di kawasan pintu masuk tol. Ia meminta agar area tersebut ditata lebih rapi, bersih, dan memiliki penerangan yang memadai guna menciptakan kesan pertama yang positif bagi pengunjung.
Namun, sorotan paling tajam diarahkan pada isu lingkungan. Dedi menegaskan perlunya perubahan tata ruang yang lebih tegas dalam melindungi alam dari kerusakan. Ia bahkan meminta pembatasan ketat terhadap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, serta mendorong upaya penghijauan kembali.
“Ke depan, aturan harus memastikan tidak ada lagi perusakan alam di Sumedang. Alamnya harus kembali hijau dan lestari,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Dedi menyatakan optimisme bahwa Sumedang mampu kembali menjadi daerah yang “Gemah Ripah Repeh Rapih”—subur, makmur, dan tertata. Ia juga menyinggung kepemimpinan Bupati Dony Ahmad Munir, dengan harapan warisan kebijakan ke depan mampu menjaga kelestarian alam sekaligus mengangkat kembali harkat dan martabat Sumedang.
Seruan ini menjadi penegasan arah pembangunan Sumedang: menggabungkan kekuatan budaya, ekonomi lokal, dan perlindungan lingkungan sebagai fondasi. ***
