Bareskrim Polri Buru “Bos Clan Lab” Etomidate: Bandar Narkoba Masuk DPO, Jejak Produksi Ilegal di Apartemen Terkuak

Bidik Ekspres.id | Jakarta

Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkap babak baru dalam perang melawan peredaran narkotika sintetis. Seorang bandar yang diduga menjadi otak produksi dan distribusi narkoba jenis sabu serta vape mengandung etomidate resmi masuk daftar pencarian orang (DPO).

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso menyebut tersangka bernama Frendy Dona sebagai pengendali utama jaringan yang disebut “Clan Lab Etomidate” di Jakarta.
“Menetapkan seorang DPO atas nama Frendy Dona yang berperan sebagai pengendali Clan Lab Etomidate di Jakarta,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu 22/4.

Pengungkapan ini menyoroti pola baru peredaran narkoba yang kian kompleks: penggunaan zat etomidate—obat anestesi yang semestinya digunakan dalam dunia medis—yang disalahgunakan dalam bentuk cairan vape. Modus ini dinilai berbahaya karena sulit terdeteksi dan berpotensi menyasar kalangan muda.

Apartemen Jadi Laboratorium Gelap
Penyidik menemukan bahwa aktivitas produksi dilakukan di sebuah unit di Apartemen Callia. Lokasi tersebut diduga dijadikan laboratorium clandestine (clan lab) untuk meracik zat berbahaya sebelum diedarkan ke pasar gelap.

Dalam pengembangan kasus, polisi telah menangkap seorang pengendali kurir bernama Ananda Wiratama. Penangkapan ini membuka jalur distribusi jaringan sekaligus memperkuat dugaan bahwa operasi tersebut terorganisir dan sistematis.
“Tim sudah melakukan pemeriksaan sekaligus penggeledahan terhadap Apartemen Callia dan pemasangan police line,” kata Brigjen Pol Eko.

Ancaman Baru: Narkoba Berkamuflase Teknologi

Kasus ini menjadi alarm keras bagi aparat dan masyarakat. Peredaran narkoba kini tidak lagi terbatas pada bentuk konvensional, tetapi telah bertransformasi mengikuti tren teknologi dan gaya hidup. Vape, yang selama ini dianggap sebagai alternatif rokok, justru dimanfaatkan sebagai medium baru penyebaran zat berbahaya.

Tanpa pengawasan ketat, pola ini berpotensi memperluas pasar narkoba ke segmen yang sebelumnya sulit dijangkau, termasuk pelajar dan generasi muda perkotaan.

PR Besar Penegakan Hukum

Penetapan DPO terhadap Frendy Dona menandakan bahwa aparat masih berpacu dengan waktu untuk membongkar jaringan lebih luas. Namun, keberhasilan penegakan hukum tidak hanya diukur dari penangkapan, melainkan juga kemampuan memutus rantai distribusi hingga ke akar.
Di tengah maraknya inovasi modus kejahatan narkotika, aparat dituntut tidak hanya reaktif, tetapi juga adaptif. Tanpa itu, “laboratorium gelap” seperti yang ditemukan di apartemen bisa terus bermunculan—diam-diam, tetapi mematikan.

Kini, perburuan terhadap sang pengendali menjadi kunci. Satu nama masuk DPO, tetapi pertanyaan besarnya: berapa banyak jaringan serupa yang masih beroperasi tanpa terdeteksi?

Editor: Redaksi