Dari Kicau Burung ke Perputaran Ekonomi Desa: Bojasari Mulai Menyulam Wisata Berbasis Komunitas

Bidik Ekspres.id l Wonosobo

Suara burung berkicau memecah suasana pagi di Lapangan Kartika Buana, Desa Bojasari, Kecamatan Kertek, Jumat (17/4). Namun di balik merdunya kicauan itu, ada denyut ekonomi desa yang mulai bergerak.

Atraksi burung berkicau yang difasilitasi Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah bukan sekadar ajang hobi atau lomba komunitas.

Kegiatan ini perlahan menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya ekosistem wisata berbasis masyarakat di tingkat desa.

Sejak pagi, ratusan peserta dan pengunjung memadati lokasi. Mereka datang tidak hanya dari Wonosobo, tetapi juga dari berbagai daerah lain.

Kehadiran mereka membawa dampak langsung: lapak-lapak UMKM lokal mulai ramai diserbu pembeli.

Di pinggir lapangan, warga membuka stan sederhana—menjual makanan ringan, minuman hangat, hingga kuliner khas Wonosobo.

Bagi sebagian pelaku usaha kecil, momen seperti ini menjadi kesempatan langka untuk meningkatkan pendapatan dalam waktu singkat.

“Kalau ada acara seperti ini, dagangan bisa cepat habis. Pembeli lebih banyak dari luar desa,” ujar salah satu pelaku UMKM setempat.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah atraksi sederhana mampu menciptakan efek berantai. Tidak hanya menghidupkan ruang publik desa, tetapi juga menggerakkan ekonomi mikro yang selama ini bergantung pada pasar lokal.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Dr. Ir. AR. Hanung Triyono, M.Si., menegaskan bahwa pengembangan pariwisata saat ini harus berpijak pada potensi komunitas.

“Atraksi seperti burung berkicau ini membuktikan bahwa kekuatan lokal bisa menjadi daya tarik wisata.

Ketika dikemas dengan baik, dampaknya bukan hanya pada kunjungan, tetapi juga pada ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan, atraksi wisata memiliki peran strategis dalam memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus membuka peluang usaha baru, terutama bagi sektor informal seperti UMKM.

Desa Bojasari dinilai memiliki modal kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata komunitas.

Selain memiliki basis pecinta burung berkicau yang aktif, desa ini juga didukung suasana alam yang asri dan kultur masyarakat yang terbuka terhadap kegiatan bersama.

Kepala Desa Bojasari, Sugeng Riyanto, melihat kegiatan ini sebagai momentum awal.

“Bukan hanya lombanya, tapi bagaimana desa bisa ikut bergerak. UMKM hidup, masyarakat terlibat, itu yang paling penting,” katanya.***