Prof. Dr H. Cecep Wahyu Hoerudin, M. Pd Resmi Jadi Guru Besar UIN SGD Bandung, Menguatkan Simpul Strategis Pendidikan Islam dari Kampus Hingga Penguatan Jaringan Pendidikan Harmoni Cendekia Insani

Bidik Ekspres.id | Bandung

Pengukuhan 17 Guru Besar di
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa 7/4 menjadi momentum penting yang tidak sekadar mencatat capaian akademik individual, tetapi juga memperlihatkan arah baru konsolidasi kekuatan intelektual pendidikan tinggi Islam nasional.

Salah satu yang dikukuhkan adalah
Prof. Dr. H. Cecep Wahyu Hoerudin, M.Pd salah satu tokoh pendidikan yang selama ini dikenal aktif membangun jejaring perguruan tinggi Islam berbasis masyarakat melalui Yayasan Harmoni Cendekia Insani.

Prosesi pengukuhan yang berlangsung di Aula Anwar Musaddad Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung itu dipimpin langsung oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. H. Rosihon Anwar sebagai bagian dari langkah strategis memperkuat kapasitas akademik kampus dalam menghadapi transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menuju pusat produksi gagasan keilmuan nasional.

Dalam momentum akademik tersebut, Prof.Dr. H. Cecep Wahyu Hoerudin, M.Pd yang meraih gelar Profesor/Guru Besar dibidang Ilmu Pendidikan Bahasa Indonesia ini dinilai sebagai salah satu figur yang memiliki rekam jejak kuat dalam pengembangan pendidikan berbasis tarbiyah serta penguatan kelembagaan pendidikan Islam berbasis masyarakat.

Dimana pengukuhan Prof. Cecep memiliki makna lebih luas dibanding seremoni akademik biasa. Selain sebagaiakademisi, Prof. Cecep dinilai sebagai salah satu figur yang memiliki rekam jejak kuat dalam pengembangan pendidikan berbasis tarbiyah serta penguatan kelembagaan pendidikan Islam berbasis masyarakat dimana ia merupakan Ketua Pembina Yayasan Harmoni Cendekia Insani yang menaungi beberapa Perguruan Tinggi Islam Swasta yang telah melahirkan ribuan sarjana

Perguruan Tinggi Islam Swasta tersebut diantaranya Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT)  Bandung, STIT Cendekia Insani Bandung serta Sekolah Tinggi Ekonomi Dan Bisnis Islam (STEBI) Bina Essa Bandung Barat. Dimana kiprah kelembagaan tersebut menjadi salah satu fondasi penting yang memperkuat kontribusinya dalam pengembangan sumber daya manusia pendidikan Islam secara berkelanjutan

Jejaring lembaga tersebut selama ini berperan dalam penguatan sumber daya manusia pendidikan Islam di tingkat masyarakat. Karena itu, pengukuhannya sebagai Guru Besar dinilai menjadi simbol menguatnya konektivitas antara kampus negeri dan jaringan pendidikan Islam berbasis masyarakat.

Yang menarik, dalam momentum yang sama turut dikukuhkan pula Prof. Dr. Isop Syafe’i, M. Ag yang meraih Guru Besar/Profesor di bidang Kurikulum Bahasa Arab, tokoh lain dari lingkungan yang sama yaitu dilingkungan Yayasan Harmoni Cendekia Insani.

Pengukuhan serta kehadiran dua tokoh dari lingkungan yayasan yang sama ini dipandang sebagai sinyal kuat meningkatnya kontribusi jaringan pendidikan berbasis masyarakat terhadap penguatan tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam serta semakin diakui dalam struktur kepakaran perguruan tinggi Islam.

Prof. Dr. H. Cecep Wahyu Hoerudin, M.Pd, Ketua Pembina Yayasan Harmoni Cendekia Insani.

Dalam beberapa tahun terakhir, transformasi PTKIN diarahkan bukan hanya memperkuat kelembagaan administratif kampus, tetapi juga membangun basis kepakaran yang mampu memengaruhi arah kebijakan pendidikan Islam nasional.

Dalam konteks itu, posisi Guru Besar menjadi sangat strategis. Guru Besar tidak hanya berfungsi sebagai jabatan akademik tertinggi, tetapi juga sebagai motor penggerak riset, pengarah kurikulum, penjaga kualitas tradisi keilmuan Islam, sekaligus penghubung antara dunia kampus dan kebutuhan masyarakat.

Pengukuhan 17 profesor baru di lingkungan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung itu dapat dibaca sebagai bagian dari konsolidasi besar pendidikan tinggi Islam dalam menghadapi tantangan globalisasi pendidikan, moderasi beragama, serta kebutuhan penguatan kualitas SDM Nasional.

“Pengukuhan Guru Besar hari ini bukan sekadar seremoni akademik. Ini adalah penguatan arah kepemimpinan intelektual pendidikan Islam Indonesia.”

Pengukuhan Prof. Dr.H. Cecep Wahyu Hoerudin, M.Pd bersama 16 profesor lainnya menegaskan bahwa transformasi pendidikan tinggi Islam tidak lagi bergerak hanya dari ruang kelas dan kampus, tetapi juga dari jejaring pendidikan masyarakat yang selama ini menjadi fondasi penguatan peradaban keilmuan Islam di Indonesia.

Momentum ini sekaligus menjadi pesan kuat: masa depan pendidikan Islam nasional akan sangat ditentukan oleh kolaborasi antara kampus negeri, lembaga pendidikan masyarakat, dan kepemimpinan intelektual para Guru Besar.***