Darah Prajurit TNI Tumpah di Lebanon, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X Desak PBB Usut Tuntas: “Tragedi Ini Tak Boleh Terulang!”

Bidik Ekspres.id | Yogyakarta

Dua jenazah prajurit penjaga perdamaian dunia tiba di Yogyakarta berbalut Merah Putih, Sabtu (4/4) malam.

Suasana duka mendalam menyelimuti Base Ops Lanud Adisutjipto Yogyakarta,  Dua peti jenazah prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian dunia tiba berbalut Merah Putih, membawa luka mendalam bagi bangsa sekaligus pertanyaan besar tentang keselamatan pasukan Indonesia di medan konflik internasional.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara langsung menyambut kedatangan jenazah bersama jajaran Forkopimda DIY.

Dalam suasana khidmat dan penuh haru, Sultan menyampaikan belasungkawa mendalam sekaligus mendesak investigasi menyeluruh atas insiden yang menewaskan prajurit TNI tersebut.
“Peristiwa ini tidak boleh terulang kembali,” tegas Sultan.

Duka terasa semakin dekat bagi masyarakat DIY karena salah satu prajurit yang gugur adalah putra daerah Kulon Progo, Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon. Ia gugur bersama Serka Anumerta M. Nur Ichwan asal Magelang saat menjalankan tugas sebagai bagian dari Satgas Yonmek XXIII-S dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Menurut Sultan, keselamatan personel TNI dalam misi perdamaian internasional harus menjadi prioritas utama semua pihak. Ia menegaskan bahwa setiap kesepakatan yang berada di bawah payung PBB wajib dilaksanakan secara konsisten demi menjamin perlindungan maksimal bagi prajurit penjaga perdamaian.

Lebih jauh, Sultan mendesak adanya investigasi transparan dan menyeluruh terkait serangan artileri yang menewaskan tiga prajurit TNI tersebut. Pemerintah Indonesia bersama PBB diminta membuka fakta sebenarnya di balik insiden itu.
“Harus diungkap secara jelas apakah ini murni kecelakaan atau ada unsur kesengajaan,” ujarnya.

Desakan tersebut mencerminkan kegelisahan publik atas keamanan prajurit Indonesia yang bertugas di wilayah konflik global. Tragedi ini bukan sekadar kehilangan personel militer, tetapi juga menjadi alarm keras bagi sistem perlindungan pasukan perdamaian dunia.
Kini, bangsa Indonesia menunggu jawaban: apa yang sebenarnya terjadi di medan tugas Lebanon?. ***

Editor: Redaksi
Sumber: Humas Prov DIY