Pengusaha Manisan Carica di Wonosobo Kerap Kekurangan Bahan Baku, Petani Dieng Diminta Perluas Budidaya

Bidik Ekspres.id l Wonosobo
Carica yang selama ini menjadi ikon olahan khas Dieng Plateau kembali menjadi sorotan. Di tengah tingginya permintaan pasar terhadap manisan dan minuman carica khas Wonosobo, para pelaku usaha justru kerap menghadapi kendala serius berupa keterbatasan bahan baku dari hasil panen petani.
Buah carica (Vasconcellea pubescens) merupakan buah eksotik endemik pegunungan yang tumbuh optimal pada ketinggian 1.500 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut. Berbeda dari pepaya biasa, carica berukuran lebih kecil, beraroma harum, serta memiliki cita rasa khas manis-asam yang banyak diminati sebagai manisan maupun minuman olahan.
Salah satu pengusaha muda Wonosobo, Alfa Gemilang, owner produsen Carica Gemilang, mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir produsen olahan carica masih sering mengalami kekurangan pasokan buah dari petani.
“Produsen minuman dan manisan carica kami berdiri sejak 13 tahun lalu. Tantangan terbesar kami sampai sekarang adalah sering kekurangan buah carica hasil panen petani di dataran tinggi Dieng,” ujarnya.

Menurut Alfa, hingga kini sebagian besar petani di kawasan Dieng masih lebih memilih menanam komoditas kentang karena dianggap lebih cepat menghasilkan, sementara tanaman carica masih ditempatkan sebagai tanaman pendamping.
Padahal, menurutnya, carica memiliki nilai ekonomi yang stabil sekaligus memberi manfaat ekologis bagi kawasan pegunungan.
“Kami akan terus berupaya menggandeng para petani untuk mengembangkan budidaya carica secara lebih baik, termasuk melalui metode pemupukan berbahan organik agar hasil panen yang sebelumnya kurang maksimal bisa meningkat,” jelasnya.
Ia menilai tanaman carica memiliki karakter lebih kuat, tahan terhadap kondisi cuaca pegunungan, berumur panjang, dan berperan penting membantu menjaga struktur tanah di lereng-lereng kawasan Dieng agar lebih stabil.
“Dengan meningkatnya kebutuhan industri olahan carica di Wonosobo, kolaborasi antara pelaku usaha dan petani dinilai menjadi kunci agar komoditas khas daerah ini tetap terjaga sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan petani lokal,” tutup Alfa.***
