Neraka Arus Balik Lebaran 2026: Macet 15 Km Lumpuhkan Jalur Situbondo – Banyuwangi, Pemudik Menjerit Terjebak hingga 8 Jam

Bidik Ekspres.id | Kab Banyuwangi
Arus balik Lebaran 2026 berubah menjadi mimpi buruk bagi ribuan pemudik. Kemacetan parah melumpuhkan jalur nasional Situbondo–Banyuwangi menuju Pelabuhan Ketapang pada Selasa (31/3/2026).
Sejak pagi hari, antrean kendaraan mengular hingga sekitar 15 kilometer dari pintu masuk pelabuhan. Kondisi ini menjadikannya kemacetan terparah sepanjang periode arus balik tahun ini.
Lonjakan volume kendaraan membuat jalur utama penghubung Jawa–Bali praktis lumpuh total. Para pengendara harus bertahan berjam-jam tanpa kepastian kapan bisa bergerak.
Situasi ini jauh lebih buruk dibanding hari-hari sebelumnya. Jika sebelumnya antrean masih berkisar 8 kilometer, kini panjang kemacetan melonjak hampir dua kali lipat.
Dampaknya sangat terasa. Sejumlah pemudik mengaku terjebak hingga delapan jam di dalam kendaraan, dengan kondisi kelelahan, minim akses makanan, hingga kesulitan mendapatkan toilet.
Salah satu pengguna jalan, Andi (34), mengaku frustrasi dengan kondisi tersebut.
“Sudah lebih dari 7 jam saya di sini, kendaraan nyaris tidak bergerak. Anak-anak mulai rewel, kami kehabisan bekal. Harusnya ada solusi dari pemerintah, ini tiap tahun selalu begini,” keluhnya.

Hal senada disampaikan Siti (29), pemudik asal Surabaya yang hendak menyeberang ke Bali.
“Kalau tahu separah ini, saya pasti berangkat lebih awal. Tidak ada informasi yang jelas soal kondisi di lapangan. Kami seperti dibiarkan,” ujarnya.
Kemacetan menuju Pelabuhan Ketapang diduga dipicu tingginya volume kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali, ditambah keterbatasan kapasitas layanan penyeberangan yang belum mampu mengimbangi lonjakan pemudik.
Perlu Evaluasi Serius Pemerintah
Kondisi ini kembali menjadi sorotan dan dinilai sebagai masalah klasik yang terus berulang setiap musim mudik dan arus balik. Pemerintah dinilai perlu mengambil langkah strategis agar kejadian serupa tidak terulang.
Beberapa langkah yang dinilai mendesak antara lain:
• Penambahan armada kapal penyeberangan di lintasan Ketapang–Gilimanuk
• Penerapan sistem pembatasan kendaraan berbasis waktu (slot booking)
• Penyediaan rest area darurat lengkap dengan fasilitas dasar bagi pemudik
• Optimalisasi rekayasa lalu lintas sejak jauh hari sebelum titik kemacetan
Selain itu, transparansi informasi kondisi lalu lintas secara real-time juga dinilai penting agar masyarakat dapat mengatur waktu perjalanan dengan lebih baik.
Hingga berita ini diturunkan, kepadatan kendaraan masih terjadi dan belum menunjukkan tanda-tanda akan terurai sepenuhnya. Aparat di lapangan terus berupaya mengurai kemacetan, namun tekanan arus balik yang tinggi membuat situasi masih jauh dari terkendali.***
Editor: Redaksi
