Digital Boleh, Tapi Jangan Lupa Menulis: Kebijakan Baru Kemendikdasmen ‘Tampar’ Generasi Serba Ketik di Dunia Digital

Bidik Ekspres.id | Jakarta
Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, pemerintah justru mengambil langkah yang dinilai “kontra arus”. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi kembali menghidupkan budaya menulis tangan di sekolah—sebuah kebijakan yang tidak sekadar nostalgia, tetapi disebut sebagai strategi menyelamatkan kualitas berpikir generasi muda.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa siswa tidak boleh sepenuhnya bergantung pada teknologi. Dalam skema baru ini, pembelajaran berbasis digital seperti penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) tetap berjalan, namun hasil pemahaman siswa harus dituangkan dalam tulisan tangan.
“Anak-anak boleh menyimak video atau pembelajaran digital, tetapi resume harus ditulis tangan. Ini penting untuk melatih motorik sekaligus kemampuan berpikir,” tegas Abdul Mu’ti.
Langkah ini menjadi sinyal keras bahwa pemerintah mulai melihat dampak laten dari kebiasaan “copy-paste” dan ketergantungan pada gadget yang berpotensi melemahkan daya analisis siswa.
Presiden Turun Tangan: Tulisan Kecil, Masalah Besar
Arahan ini bukan tanpa alasan. Presiden Prabowo Subianto bahkan secara langsung meminta agar pelajaran menulis diperkuat kembali dengan penekanan yang tak biasa: tulisan harus besar.
Menurutnya, fenomena siswa menulis kecil bukan sekadar soal estetika, tetapi berkaitan dengan kondisi ekonomi dan kesehatan.
“Saya khawatir anak-anak kita nanti semua pakai kacamata karena menulis terlalu kecil,” ujar Prabowo.

Pernyataan ini membuka fakta yang jarang disorot: banyak siswa menghemat kertas karena keterbatasan biaya, sehingga tulisan diperkecil. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan mata, tetapi juga pada kualitas pembelajaran.
Kebijakan Buku Gratis: Solusi atau Janji Lama?
Tak berhenti di situ, Presiden juga mendorong Menteri Keuangan untuk menggelontorkan anggaran buku gratis bagi siswa. Kebijakan ini diharapkan menjadi solusi konkret agar siswa tidak lagi “berhemat berlebihan” dalam belajar.
Namun publik tentu menunggu: apakah program ini benar-benar terealisasi secara merata, atau kembali menjadi janji yang tersendat di birokrasi?
Menulis Tangan Bukan Ketinggalan Zaman
Di balik kebijakan ini, ada pesan penting bagi orang tua dan masyarakat:
Menulis tangan melatih otak lebih dalam dibanding mengetik, karena melibatkan koordinasi motorik dan kognitif.
Meningkatkan daya ingat, karena proses menulis membuat informasi lebih melekat.
Mencegah ketergantungan teknologi, yang jika berlebihan dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis.
Melatih kesabaran dan ketelitian, dua hal yang mulai terkikis di era serba instan.
Ahli pendidikan bahkan menilai, generasi yang terlalu dini “ditinggalkan” dari aktivitas menulis tangan berisiko mengalami penurunan kemampuan menyusun ide secara runtut.
Antara Modernitas dan Fondasi Dasar
Kebijakan ini pada akhirnya menegaskan satu hal: teknologi bukan pengganti dasar pendidikan, melainkan pelengkap.
Jika tidak diimbangi, generasi masa depan berpotensi cerdas secara digital, tetapi rapuh dalam berpikir mendalam.
Kini pertanyaannya, apakah sekolah dan orang tua siap menjalankan “jalan tengah” ini? Atau justru kembali terjebak dalam euforia digital tanpa kendali?
Yang jelas, pesan pemerintah tegas: masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh layar, tetapi juga oleh pena di tangan siswa.***
Editor : Redaksi
