Lebaran di Ujung Tanduk: Terpantau Di Pasar Swamandiri Margaasih Kabupaten Bandung Harga Sembako Melonjak “Bak Roket”, Pemerintah Dianggap Abai pada Jeritan Rakyat

Bidik Ekspres.id | Kab Bandung

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, euforia mudik dan persiapan lebaran justru dibayangi kenyataan pahit: harga kebutuhan pokok meroket tanpa kendali. Di tengah himpitan ekonomi yang belum pulih, warga kini harus menghadapi lonjakan harga sembako yang kian “Menggigit” daya beli.

Pantauan di Pasar Tradisional Swamandiri Margaasih pada Rabu 18/3 menunjukkan harga sejumlah komoditas melonjak tajam. Daging ayam menembus Rp44.000 per kilogram, daging sapi mencapai Rp145.000, telur ayam Rp32.000, sementara beras dan beras ketan mengalami kenaikan paling signifikan—menjadi beban terberat bagi masyarakat kecil.

Lonjakan ini bukan sekadar fluktuasi musiman. Di lapangan, pedagang dan pembeli sama-sama mengeluhkan tekanan yang semakin tak tertahankan.
“Harga beras dan ketan sekarang sangat melejit. Banyak faktor, tapi yang paling terasa sejak adanya Program MBG. Sejak itu harga beras mulai naik,” ujar H. Umar, salah satu pedagang beras di pasar tersebut kepada awak Media.

Ia menegaskan, kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan tanpa langkah konkret.
“Saya mendukung MBG, tapi harus dibarengi kebijakan lain. Jangan sampai ada yang diuntungkan, tapi masyarakat kecil malah terjepit karena bahan pokok jadi sulit dan mahal,” katanya.

Lebih lanjut, H. Umar menyampaikan harapan agar pemerintah segera turun tangan secara nyata, bukan sekadar wacana.
“Harapan kami sederhana, pemerintah bisa menjaga stabilitas harga, memperlancar distribusi, dan memastikan stok tetap aman. Jangan sampai pedagang disalahkan, padahal kami juga terdampak. Kalau harga dari atas sudah tinggi, kami di bawah hanya bisa mengikuti,” ungkapnya.

Ia juga meminta adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap rantai pasok.
“Kalau memang ada permainan di distribusi atau penimbunan, tolong ditindak tegas. Jangan rakyat kecil terus yang jadi korban,” tambahnya dengan nada tegas.

Keluhan serupa datang dari warga. Seorang pengunjung pasar asal Cikuya, Desa Lagadar, menyampaikan harapannya agar pemerintah tidak hanya hadir dalam seremoni program, tetapi juga benar-benar hadir di tengah kesulitan rakyat.
“Kami ini hanya ingin harga stabil. Tidak harus murah sekali, tapi jangan naik terus seperti sekarang. Setiap hari belanja terasa makin berat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak langsung terhadap kehidupan rumah tangga
“Sekarang kami terpaksa mengurangi belanja, bahkan kadang mengganti lauk dengan yang lebih murah. Kalau terus begini, kasihan anak-anak, kebutuhan gizi juga bisa terganggu,” katanya.

Menurutnya, Pemerintah perlu lebih peka terhadap kondisi di lapangan.
“Kami berharap pemerintah benar-benar mendengar suara rakyat kecil. Jangan hanya fokus pada program besar, tapi lupa mengendalikan harga di pasar. Bagi kami, yang penting dapur tetap bisa mengepul,” ucapnya penuh harap.

Di sisi lain, realitas sosial berbicara lebih lantang: ibu-ibu rumah tangga kini terpaksa memutar otak, memangkas pengeluaran, bahkan mengorbankan kualitas konsumsi keluarga. “Menjerit” bukan lagi kiasan, melainkan kondisi nyata yang terjadi setiap hari di dapur-dapur warga.

Ironisnya, di saat kebutuhan meningkat menjelang lebaran, intervensi pemerintah justru terasa minim. Operasi pasar yang seharusnya menjadi “rem darurat” belum mampu menahan laju harga yang terus melesat.

Situasi ini memunculkan pertanyaan tajam: di mana negara ketika rakyatnya harus memilih antara kebutuhan pokok dan kemampuan bertahan hidup?
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Idul Fitri bukan lagi menjadi momen kemenangan, melainkan potret ketimpangan—di mana sebagian merayakan, sementara sebagian lainnya harus menahan beban hidup di balik gemerlap hari raya.

Pemerintah kini dituntut tidak hanya hadir dalam wacana dan program, tetapi juga dalam solusi nyata. Sebab bagi rakyat kecil, stabilitas harga bukan sekadar angka—melainkan soal hidup atau tidaknya dapur mereka tetap menyala.***

Editor: Redaksi