Ternak Yayasan di Program MBG: Wakil Kepala BGN Bongkar Praktik ‘Bisnis Berkedok Sosial’ di Balik Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG)

Bidik Ekspres.id | Jakarta
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, kini menghadapi tantangan serius di lapangan. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, mengungkap adanya praktik penyalahgunaan program oleh sejumlah pihak yang memanfaatkan yayasan sebagai kedok untuk menjalankan bisnis dapur MBG.
Dalam sebuah workshop bertajuk “Penguatan Strategi Komunikasi dan Implementasi Kehumasan” yang digelar Sabtu (7/3/2026), Nanik secara terbuka menyampaikan kekhawatirannya terkait fenomena yang ia sebut sebagai “ternak yayasan” dalam pengelolaan dapur MBG.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang,
Menurutnya, tingginya target pelaksanaan program makan bergizi gratis telah memicu munculnya berbagai yayasan yang didirikan bukan semata untuk tujuan sosial, melainkan untuk mengambil keuntungan dari program tersebut.
“Target makan bergizi gratis (MBG) sangat tinggi sekali, muncul lah ternak-ternak yayasan. Banyak orang memiliki lebih dari satu dapur,” ungkap Nanik.
Fenomena ini, kata dia, membuat sejumlah pihak berlomba-lomba mendirikan yayasan dan mengelola beberapa dapur MBG sekaligus. Namun dalam praktiknya, orientasi keuntungan kerap mengalahkan komitmen terhadap kualitas pelayanan dan standar operasional yang seharusnya diterapkan dalam program sosial tersebut.
Nanik mencontohkan beberapa kasus di mana pengelola dapur tidak memperhatikan fasilitas yang layak bagi operasional program. Bahkan, hal-hal mendasar seperti perbaikan peralatan atau penyediaan fasilitas pendukung sering diabaikan karena dianggap mengurangi margin keuntungan.
“Yang muncul adalah pengusaha pengusaha berkedok yayasan, karena orientasinya bisnis tadi. Makanya kamar pun tidak dipikirkan, diminta AC susah, kalau peralatan rusak tidak mau ganti karena hitung-hitungannya bisnis,” jelasnya.
Padahal, program MBG dirancang untuk memastikan makanan yang disajikan kepada masyarakat—khususnya anak-anak dan kelompok rentan—diproduksi dalam lingkungan yang higienis, aman, dan memenuhi standar gizi yang ketat.
Praktik pengelolaan yang hanya berorientasi keuntungan dinilai berpotensi merusak tujuan utama program, sekaligus mengancam kualitas layanan gizi yang seharusnya menjadi prioritas.
Menanggapi situasi tersebut, Badan Gizi Nasional memastikan tidak akan tinggal diam. Nanik menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh mitra penyelenggara dapur MBG, termasuk menindak pihak yang terbukti melanggar prinsip dan standar program.
BGN juga membuka kemungkinan pengetatan mekanisme seleksi dan pengawasan terhadap yayasan atau lembaga yang terlibat dalam program ini, guna memastikan bahwa pengelola dapur benar-benar memiliki komitmen sosial, bukan sekadar mengejar keuntungan.
Langkah ini dinilai penting agar program MBG tetap berjalan sesuai tujuan awalnya: meningkatkan kualitas gizi masyarakat secara merata dan berkelanjutan, bukan menjadi ladang bisnis berkedok kegiatan sosial.
Di tengah besarnya harapan publik terhadap program makan bergizi gratis, pengawasan ketat dan transparansi pengelolaan dinilai menjadi kunci agar program strategis ini tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.***
Editor: Redaksi
