Rumah Seorang Warga Kampung Cabang Kebon Kopi Karang Asih Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Ludes, Bantuan Mandek: Lambannya Respons Pemerintah Dipertanyakan

Bidik Ekspres.id | Kabupaten Bekasi
Sudah lebih dari dua pekan sejak rumah Istijab seorang warga Kampung Cabang Kebon Kopi, Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara, hangus terbakar pada 10 Februari lalu. Namun hingga kini, bantuan nyata dari pemerintah belum juga terlihat.
Kebakaran akibat dugaan korsleting listrik itu tidak hanya meluluhlantakkan bangunan. Istijab tinggal bersama tiga anak dan tiga cucunya. Delapan jiwa kehilangan tempat tinggal dalam semalam.
Kini mereka bertahan di saung darurat beratap terpal dan banner bekas, mengandalkan kepedulian warga sekitar.
Tempat tinggal sementara pasca kebakaran, Menunggu respon pemerintah
Yang menjadi pertanyaan, mengapa pemerintah terkesan lamban? Apakah harus menunggu sorotan publik lebih luas baru bantuan digerakkan? Ataukah pemerintah memilih seolah-olah tidak melihat bahwa ada warganya yang hidup di bawah terpal pascamusibah?
Alasan administratif ataupun alasan lainnya tidak semestinya menjadi tameng. Bantuan kemanusiaan adalah soal tanggung jawab moral dan konstitusional, bukan sekadar kelengkapan berkas.
Kabupaten Bekasi dengan geliat industri dan anggaran besar seharusnya tidak
kesulitan membantu satu keluarga yang kehilangan segalanya. Jika untuk delapan jiwa saja responsnya tersendat, publik berhak mempertanyakan keseriusan sistem tanggap darurat Pemerintah.
Sugiono dan Hermansyah dari LSM Benteng Bekasi yang turun langsung ke lokasi menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal dan memperjuangkan korban hingga mendapatkan bantuan dari pemerintah.
“Negara tidak boleh absen. Kami akan terus kawal sampai ada tindakan nyata,” tegas mereka.
“Kami meminta pemerintah jangan lamban dan jangan menutup mata. Ini warganya sendiri yang terdampak musibah. Negara harus hadir, bukan hanya saat seremoni atau pencitraan” Tegas Hermansyah
“Kami akan terus kawal sampai keluarga ini benar-benar mendapatkan bantuan dan kepastian.” Pungkas Hermansyah
Sementara itu, Sugiono ditemui ditempat terpisah mengatakan
“Kasus ini menjadi cermin bagi pemerintah daerah di Kabupaten Bekasi. Di wilayah dengan geliat industri besar dan perputaran ekonomi tinggi, masih ada satu keluarga dengan tiga anak kecil yang harus tidur di bawah terpal tanpa kepastian masa depan”
“Ini bukan sekadar soal kebakaran rumah. Ini soal kehadiran negara dalam situasi darurat. Soal keberpihakan pada warga kecil yang tak memiliki daya tawar selain berharap pada empati dan tanggung jawab pemerintah” Pungkas Sugiono
Kini, Delapan jiwa itu masih menunggu. Dan setiap hari tanpa tindakan adalah cermin dari pemerintah yang terlalu lama menunda kewajibannya.*** (Tim)
