Seorang Oknum Tenaga Medis di Puskesmas Cetarip Bandung Diduga Bersikap Melanggar Disiplin Profesi

Bidik Ekspres | Kota Bandung
Pada Senin 12/01, seorang perempuan bernama Eka Widaningsih berniat akan berobat sekaligus meminta rujukan kepada Puskesmas Cetarip yang beralamat di Jalan Cetarip Barat No 3 RT 07/ RW 09 Kopo, Kecamatan BojongLoa Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat 40233.
Saat pasien Eka Widaningsih mendaftar sebagai pasien BPJS, seorang petugas keamanan mengatakan “Pasien BPJS yang baru tinggal di Kota Bandung itu di anggap sebagai tamu, jadi hanya bisa 1 kali untuk berobat atau minta rujukan dari Puskesmas ini”
Setelah mendengar perkataan petugas keamanan tadi, Eka Widaningsih langsung ikut mengantti diloket pendaftaran, pas didepan loket pendaftaran Eka diminta membayar sebesar Rp 15 ribu, setelah itu barulah ia tersadar bahwa dirinya didaftarkan melalui umum non BPJS

Hal tersebut disampaikan Eka Widaningsih kepada awak Media, di Bandung Senin 12/1
Setelah itu Eka bertanya kepada petugas keamanan “Jika saya pendaftaranya masuk ke pasien Umum gimana saya bisa dapat surat rujukan ke Rumah sakit yang di tuju? ”
Selanjutnya petugas keamanan tersebut menjawab “Nanti saja lihat keputusan dokter. ”
Mendapati jawaban dari petugas keamanan tersebut, Eka Widaningsih yang merupakan Ketua Srikandi Laskar Merah Putih (LMP) Jawa Barat dan juga seorang Pimpinan di salah satu Media Online
akhirnya mengikuti arahan dari petugad keamanan tersebut.
Setelah menunggu lama, akhirnya Eka Widaningsih yang akrab di sapa Bunda Eka ini mendapat giliran pemeriksaan di diruang klaster 3 Dewasa dan disana sudah menunggu seorang Bu Dokter yang Cantik.
“Saat saya tiba, dokter yang cantik tersebut memasang muka yang judes, dia tidak mempersilahkan saya duduk, terpaksa saya berdiri didepannya”
Lebih lanjut Bunda Eka yang juga sorang Ketua Umum salah satu club motor tersebut mengatakan
“Ketika saya duduk, tiba tiba dokter tersebut memukul mukul meja kerjanya sambil meminta saya pindah tempat duduk ke sampingnya sambil bertanya dengan nada ketus Ibu nomor Kartu BPJS nya berapa?”
Menurut Ketua Srikandi LMP Jabar tersebut, dirinya menjawab bahwa lupa membawa kartu BPJS lantas dirinya menyarankan akan mencek NIK nya sambil menyerahkan KTP.
Tak lama berselang, Suami Bunda Eka yang merupakan seorang Advokat masuk ke ruangan pemeriksaan, lantas tenaga kesehatan tersebut berkata dengan nada agak tinggi “Ibu ini gimana sih katanya mau minta rujukan kenapa dipendaftarannya pakai umum? mana bisa kalau umum pakai rujukan BPJS sambil”
Menurut Bunda Eka, perkataan tenaga kesehatan tersebut dibarengi dengan melempar KTP keatas meja kerjanya, melihat hal tersebut Bunda Eka berusaha menjelaskan sebelumnya bahwa dia sudah menyayangi hal tersebut kepada petugas keamanan, namun tenaga kesehatan tersebut tetap pada pendiriannya.

Selanjutnya Bunda Eka mengatakan bahwa melihat gelagat seperti itu suaminya langsung keluar untuk menemui petugas keamanan untuk meminta penjelasan, sambil menunggu suaminya Bunda Eka meminta ke oknum tenaga kesehatan tersebut agar sedikit beretika dan berempati karena dirinya sedang menderita penyakit baru ginjal, setelah itu Bunda Eka meninggalkan ruangan pemeriksaaan.
Menurut Bunda Eka lagi, begitu dirinya keluar ruang pemeriksaan terlihat suaminya sedang bersitegang dengan salah satu petugas puskesmas dan petugas keamana, dia pun menghampirinya sambil berkata “Dari awal saya sudah bilang ke Bapak petugas keamanan bahwa saya minta pendaftaran BPJS bukan Umum, tapi bapak tetap kasih saya umum”
“Saya kesal bukan masalah uang, pakai BPJS dan bayar pendaftaran pun tidak msalaha asal jangan di persulit sampai Dokter marah pada saya” Lanjut Bunda Eka sambil menangis dan mengajak suaminya pulang.
Namun tak lama kemudian Bunda Eka jatuh pingsan, sontak saja suaminya marah dan minta pertanggungjawaban dari Puskesmas.
Atas kejadian tersebut, pihak Puskesmas Cetaril meminta ma’af atas insiden tersebut dan telah terjadi kesalah pahaman antara pasien dan dokter, selanjutnya pihak Puskesmas pun memberikan surat rujukan
Atas hal tersebut, suami Bunda Eka mengatakan
“Bukan masalah salah paham tapi Etika seorang dokter terhadap pasien, apalagi ini sama sama perempuan yang usianya lebih tua, harusnya mempunyai adab.***
